Gunung Jangan Pula Meletus
Oleh Emha Ainun Nadjib
KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai
Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya?
Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya?
Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung
nilai-nilai kandungannya?
Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu
mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir
membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia
sedang berduka atau tidak
Jumat, 07 Januari 2005
Innalillah......
Sebenarnya saya sudah lama mau posting tulisan tentang Aceh. Tapi apa mau dikata, baru berhasil connect ke blogger sekarang.
Awalnya hanya 1000 orang. Hari kedua bertambah jadi 2000, kemudian 3000. Setelah itu kenaikannya eksponensial. Subhanallah, betapa maha kuasanya Allah, hanya beberapa saat puluhan, bahkan ratusan ribu manusia meregang nyawa. Hanya beberapa menit kota-kota indah nan menawan hilang ditelan arus air. Ribuan keluarga kehilangan anggota keluarganya, bahkan ada yang satu keluarga habis semua.
Duka Aceh adalah duka kita juga. Bagaimanapun Aceh adalah daerah yang paling berjasa terhadap kemerdekaan Indonesia. Kita lihat bagaimana perjuangan rakyat Aceh dalam menghadapi penjajah
Awalnya hanya 1000 orang. Hari kedua bertambah jadi 2000, kemudian 3000. Setelah itu kenaikannya eksponensial. Subhanallah, betapa maha kuasanya Allah, hanya beberapa saat puluhan, bahkan ratusan ribu manusia meregang nyawa. Hanya beberapa menit kota-kota indah nan menawan hilang ditelan arus air. Ribuan keluarga kehilangan anggota keluarganya, bahkan ada yang satu keluarga habis semua.
Duka Aceh adalah duka kita juga. Bagaimanapun Aceh adalah daerah yang paling berjasa terhadap kemerdekaan Indonesia. Kita lihat bagaimana perjuangan rakyat Aceh dalam menghadapi penjajah
Langganan:
Komentar (Atom)