Selasa, 29 Juli 2008

Luruskan niat...

Taujih kang Haru pada relawan P2B untuk kebakaran Cikutra
Sesungguhnya jika antum semua melakukan ini semua untuk meraih simpati masyarakat di sana, maka antum akan sakit hati. Jangan lupakan bahwa apapun kondisinya, semua amal tersebut hanyalah bagian dari usaha kita untuk mencari cara tercepat dalam meraih ridho Allah saja. Segala usaha yang antum lakukan telah mengorbankan dana, waktu, dan tenaga (sebagian relawan telah beranak istri dengan mata pencaharian yang bisa dikatakan minim dalam hitungan materil, tapi satu kelebihan yang saya syukuri, mereka kaya akan kefahaman tarbiyah dan militansi), akan menjadi tidak ada artinya jika yang mendasarinya adalah harapan agar mereka disana memilih PKS.

Jangan antum sekali-kali mengharapkan terimakasih atau simpati apapun dari mereka. Sesungguhnya apa yang kita lakukan sama sekali bukan untuk itu Akh…! Mereka berterimakasih pada kita atau justru sebaliknya… entah mereka memilih kita ataupun tidak, itu bukan urusan kita. Itu semua bergantung pada seberapa ridho Allah terhadap amal-amal dakwah kita. Tugas kita hanya satu, berusaha sebaik-baiknya dilapangan untuk membantu mereka dengan keikhlasan untuk Allah semata. Biar nantinya Allah yang menilai amal tersebut di sisinya. Jika Allah berkehendak dari silaturahmi dan amal-amal dakwah kita tersebut untuk membawa hati-hati mereka (masyarakat Bandung) pada dakwah maka dengan insyaAllah kemenangan dakwah akan datang dengan sendirinya.”

dari bang Ardian yang dikutip oleh bang kamil.

Poster TRENDI


"klik" untuk memperbesar.
"save as" untuk menyimpan.

Senin, 28 Juli 2008

8 Program Unggulan TRENDI

Dikutip dari rilis Tim Trendi yang dikutip oleh Pikiran Rakyat.

Kedelapan program tersebut adalah:

  1. Memperjuangkan APBD untuk rakyat mulai tahun 2009 meliputi:
    bantuan operasional RW sebesar Rp 3 juta/tahun. bantuan operasional RT sebesar Rp 1,5 juta/tahun bantuan kegiatan kemasyarakatan RW sebesar Rp 2,5 juta/tahun.
    dana rutin masjid RW sebesar Rp 2, 5 juta  bantuan kegiatan PKK/Posyandu tingkat RW sebesar Rp 1 juta/tahun insentif untuk anggota Linmas Rp 500.000/orang/tahun
    santunan kematian warga miskin sebesar Rp 2 juta/orang bantuan operasional Karang Taruna keluraham sebesar Rp 5 juta/tahun bantuan operasional  LPM kelurahan sebesar Rp 5 juta/tahun bantuan operasional PKK keluraham Rp 5 juta/tahun.

  2. Implementasi anggaran pendidikan 20% diluar gaji guru. Dengan anggaran tersebut, maka dapat dilaksanakan pendidikan gratis tingkat dasar dan menengah, peningkatan honor/intensif bagi guru ngaji, TK/TPA dan guru honorer.

  3. Gratis biaya layanan ambulans, bersalin, pemakaman, dan penyediaan air bersih bagi warga tidak mampu.

  4. Gratis pembuatan KTP, KK, Akta kelahian, dan pelayanan puskesmas untuk semua warga.

  5. Menganggarkan Rp 10 miliar/tahun untuk melakukan operasi pasar.

  6. Melindungi buruh dengan kesejahteraan rakyat, melindungi pasar tradisional, dan penumbuhan 100 ribu wirausahawan baru. Pemberdayaan wirausahawan baru itu dilakukan dengan memberikan hibah, modal bergulir, lembaga penjamin kredit dan pembentukan Klinik Konsultasi Bisnis di tiap kecamatan.

  7. Mengembangkan masyarakat yang religius melalui peningkatan sarana prasarana ibadah dan mencegah berbagai bentuk kemaksiatan (gank motor, miras, napza, prostitusi, pornografi dan pornoaksi.

  8. Mengembangkan fungsi konservasi di Kawasan Bandung Utara, meningkatkan kualitas dan kuantitas ruang terbuka hijau, melaksanakan pengelolaan sampah terpadu, ramah lingkungan dan berbasis pemberdayaan masyarakat.

Jumat, 25 Juli 2008

Pilkada Bandung (hingga 25 Juli 2008)

Hmmm....
Sedang mencoba membuat analisis tentang setiap calon. [saya usahakan lebih fair]

Calon nomer tiga (Hudaya-Nahadi) benar-benar tidak ketahuan track recordnya. Mereka merupakan calon independen yang maju dengan syarat mendapatkan dukungan 3% rakyat kota Bandung (sesuai aturan KPUD). Kabarnya, Hudaya ini adalah seorang pengusaha kaya di kota Bandung, tetapi belum tersiar cukup luas dalam bidang apa bisnisnya. Hingga saat ini belum ada faktor yang bisa meyakinkan rakyat untuk memilih calon ini, soalnya orangnya tidak terkenal dan basis massanya juga tidak ketahuan. Satu-satunya hal yang berbeda dari mereka dengan calon yang lain adalah 'ke-non-partaian-nya'. Dengan demikian mereka berusaha menjaring massa yang sudah antipati pada partai politik yang ada.

Sebelum rangkaian pilwalkot digelar, Hudaya ini sempat dekat dengan pks, bahkan diinfokan pernah rutin pengajian dengan ust Abu Syauqi. Namun menjelang pilwalkot, tidak berlanjut lagi.

Dari caranya mensosialisasikan diri, wajar ketika muncul anggapan bahwa calon ini mungkin main mata dengan Dada untuk memecah suara Trendi. Pasalnya, pamflet yang mereka buat didesain sangat mirip dengan pamflet trendi. Tapi saya akui, asumsi ini masih sangat prematur.

Calon nomor dua (Taufikurahman-Abu Syauqi) pada awalnya juga orang yang sama sekali tidak dikenal masyarakat, terutama pak Taufiknya. Ust Abu Syauqi sendiri merupakan seorang ulama yang cukup terkenal di kota Bandung. Tetapi dengan adanya basis massa yang jelas dan sudah mengakar (PKS) popularitas pasangan ini dengan cepat menanjak. Modal ke-pks-an sebenarnya cukup untuk mendulang banyak suara, walaupun belum cukup untuk memenangkannya. Karena itu, dukungan para pakar ITB menjanjikan program-program berkualitas yang akan mendongkrak popularitas serta elektabilitas pasangan ini.

Calon nomor satu (Dada-Ayi) merupakan calon incumbent. Modal mereka yang paling besar adalah popularitas mereka yang sudah hampir 100%. Dengan dukungan yang besar (Golkar+PDIP+PBB+PD+PAN+lupa lagi) maka kemungkinan mereka menang adalah sangat besar. Calon ini juga didukung banyak ormas, seperti Muhammadiyah, NU, dan FPI. Bahkan MUI kota bandung secara tidak resmi juga mendukungnya (ditandai dengan dukungan ketuanya dan beberapa ulama di dalamnya).

Secara keseluruhan, program yang mereka tawarkan memiliki corak yang sama; menaikkan kesejahteraan rakyat kota bandung. Mudah-mudahan mereka mampu dan konsisten untuk melaksanakannya.

Saya pribadi [kali ini pendapat pribadi, walau tetap berusaha obyektif] mendukung Trendi dan mengharapkan kemenangan pasangan ini, tentunya dengan segudang alasan yang pernah saya tuliskan di sini. Tetapi saya cukup khawatir jika calon nomor tiga menang, karena mereka sama sekali tidak ketahuan track recordnya, juga basis massanya.

Untuk calon nomor satu, walaupun dengan berbagai kegagalan yang pernah dia buat, saya berusaha untuk tidak khawatir dan berhusnudzon, bahwa mereka menyadari kesalahannya dan tak akan mengulanginya. kemudian berjuang sekuat tenaga untuk meluruskan kesalahannya di masa lalu. Saya juga berusaha yakin bahwa Dada-Ayi tidak akan 'macam-macam', karena di belakangnya ada Muhammadiyah-NU-FPI yang siap menegur dan menghadang jika mereka berani berbuat dzalim lagi kepada rakyat bandung.

Senin, 21 Juli 2008

Hari ini, setahun yang lalu

Alhamdulillah, setahun telah terlewati sejak saya dinyatakan menjadi alumni ITB. Waktu terasa begitu cepat, seolah baru kemarin saya mengenakan toga masuk ke balairung utama Sasana Budaya Ganesha, kemudian bersama-sama mengikrarkan janji sarjana.

Detik-detik acara itu masih lekat dalam ingatan saya. Keluar dari rumah, berfoto bersama bapak dan ibu di halaman depan, berangkat, parkir di dekat PAU, jalan lewat terowongan, menanti waktu masuk ke dalam Sabuga, bertemu dengan Angga yang juga diwisuda, masuk ke dalam sabuga, rangkaian acara, salaman dengan rektor, foto bersama, menanti para wisudawan untuk pawai, perang air, makan-makan, diminta menyuapi ibu saya karena gagal menjawab pertanyaan MC di acara wisudaan himpunan, hingga menyetir mobil pulang ke rumah. Semuanya tak ada yang terlewat. Benar-benar serasa baru kemarin saya ikutan perang air itu. Seolah baru kemarin malam saya pura-pura marah ke Rizki Martin karena dia (tidak sengaja) melempar saya dengan air di acara malam wisudaan himafi.

Satu tahun ini banyak yang sudah dilakukan. Mulai bekerja di Dot System, menginap di pabrik peleburan baja di Jakarta untuk memantau keberjalanan alat, bolak-balik Bandung-Jakarta seminggu dua kali, melamar seorang akhwat di bulan Ramadhan dan menikahinya satu bulan kemudian, mengelola pernikahan adik pertama saya, dan lain sebagainya. Tak lupa mendapatkan tambahan binaan transferan dari seorang murobbi yang kembali ke daerah asalnya, dan juga bertemu Prof Noor yang mengapprove saya sebagai mahasiswanya.

Masih banyak impian yang belum diwujudkan. Menjelang masa-masa akhir studi, begitu banyak ide yang bermunculan yang meronta-ronta untuk dilaksanakan. Saking banyaknya, jadi bingung mana dahulu yang hendak dipilih. Akhirnya ketika Pak Sukirno pasca menguji tugas akhirnya Johan menyampaikan tawaran dari seorang koleganya untuk bekerja di tempatnya, saya terima dengan senang hati. Terutama karena ini sifatnya tawaran, lokasinya di Bandung, dan berada pada domain keahlian saya. Tawaran berlaku untuk (at least) dua tahun. Entah akan saya penuhi tenggat waktu itu atau tidak. Let's see.

Akhir kata, syukur dan sabar harus senantiasa menghiasi jalan hidup kita. Sabar, ketika berjuang mencapai segala bentuk cita dan meralisasikan asa. Sabar, ketika tersandung kerikil kecil atau tertabrak batu karang yang maha besar. Tetapi tetap bersyukur atas segala nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada kita.

Sungguh indah urusan orang mu'min itu. Ketika senang dia bersyukur, dan itu baik baginya. Ketika susah dia bersabar, dan itu baik pula baginya.
[Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wasallam]

Sabtu, 19 Juli 2008

PKS ke-PD-an?

Artikel ini adalah penjelasan saya atas pertanyaan akh Febri tentang pencalonan pak Taufik dan ust. Abu Syauqi. Dia bertanya penyebab majunya PKS sendirian, tanpa berkoalisi dengan pihak lain. Apakah memang gagal berkoalisi, atau malah kepedean karena pilgub kemaren (walaupun koalisi dengan PAN) menang 42%?

Berikut penjelasan dari saya.
Kalau saya tidak salah, beberapa waktu yang lalu saya sudah posting tentang proses perkembangan pilwalkot di milis ini.

Berdasarkan berbagai informasi yang insya Allah shahih, prosesnya berjalan cukup panjang. Dimulai dengan penarikan aspirasi secara luas di masyarakat tentang kota Bandung. Proses ini menggunakan hotline (saya lupa apa saja sarananya) yang dipublikasikan secara luas melalui spanduk-spanduk, sejak sekitar satu tahun yang lalu.

Kemudian dalam perkembangannya, banyak opsi yang muncul untuk pencalonan walikota ini. Di antara opsi yang sampai ke telinga saya adalah bergabung dengan kang Dada dengan satu syarat: jadi wakil. Kemudian opsi lain adalah berkoalisi dengan partai lain. Opsi pertama ditolak mentah-mentah oleh syuro karena berbagai macam hal, terutama catatan-catatan hitam selama 5 tahun kepemimpinannya.

Kemudian muncul koalisi poros tengah yang beranggotakan PBB, PD, PAN, dan PPP. Pada awalnya, poros tengah ini merapat ke kubu kang Dada, terutama setelah kang Dada shock karena PKS mendeklarasikan calonnya sendiri (yang berarti menolak mentah-mentah tawaran bergabung). Padahal menurut hitung-hitungan di atas kertas, jika PKS gabung dengan kang Dada, diprediksikan akan menang mutlak.

Tetapi kemudian poros tengah pun goyah ketika tahu bahwa yang dipilih kang Dada menjadi wakilnya adalah Ayi Vivananda, kader PDIP. Poros tengah cukup kaget karena secara matematika dewan, jumlah kursi poros tengah masih lebih banyak dari jumlah kursi golkar+pdip. Di tempat lain, PAN sedang merapat sangat dekat ke PKS, bahkan mengajukan 5 nama untuk diusung menjadi wakil kang Taufik. Tetapi ternyata pada deklarasi Dada-Ayi yang diselenggarakan dalam waktu bersamaan justru dihadiri oleh Deden Rukman Rumaji, ketua DPD PAN kota Bandung, yang namanya termasuk di antara 5 nama yang diajukan ke DPD PKS, bahkan ada kabar di bandung.detik bahwa Deden ini calon terkuat di antara 5 nama yang diajukan.

Saya menduga inilah yang menjadi alasan utama koalisi PKS-PAN gagal. Bisa dibayangkan, ketuanya saja sudah seperti itu, sementara di tingkat wilayah (DPW PKS dan DPW PAN jabar) sedang berusaha keras membicarakan kemungkinan koalisi. Karenanya ini menjadi pertanyaan besar, kalau koalisi ini jadi, apakah jajaran DPD PAN akan bekerja keras untuk pemenangan koalisi ini? Padahal pengalaman HADE kemaren di kota Bandung, PAN nyaris tidak kelihatan kerjanya.

Berdasarkan hal itu, koalisi dengan partai gagal tercipta. Tetapi bukan berarti opsi berikutnya adalah langsung maju sendirian. Masih ada juga opsi lain, yaitu bergabung dengan calon independen. Ada beberapa nama yang jauh-jauh hari sudah masuk ke DPD. Misalnya Indra Prawira, ibu Hetifah, dan Hudaya Prawira. Tapi mohon maaf, saya tidak mengetahui penyebab kegagalan koalisi dengan mereka.

Atas dasar berbagai macam kondisi yang terjadi, akhirnya syuro DPD memutuskan untuk memilih ust. Abu Syauqi maju menjadi calon wakil walikota. Nama Taufikurahman dan Abu Syauqi sendiri sudah digodok lama sebelum pendeklarasian. DPD mencari kader-kader terbaik yang dimiliki di kota Bandung. Ust. Abu Syauqi sejak jauh-jauh hari menolak menjadi Bandung 1, dan sudah menyampaikan keberatannya ke DPP PKS. Tetapi kemudian tetap direkomendasikan oleh DPD untuk menjadi Bandung 2, jika kemungkinan koalisi dengan elemen lainnya gagal.

Itu dulu mungkin informasi dari saya. Kalau ada yang mau menambahkan, silakan. Kalau ada yang mau mengkritik, silakan juga. Yang penting, jangan lupa doanya, dalam setiap habis shalat, dalam qiyamullaylnya, setiap sehabis al ma'tsurat, dan dalam segala kesempatan lainnya. Semoga pilkada ini kita bisa menang. Amin.

Dari Wisuda Sampai 'Mati Rasa'

Alhamdulillah, kemarin sore kembali berkesempatan mengunjungi kampus. Sedang ada syukuran wisuda di prodi Fisika. Adik saya, Shofia Aniisa, berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 4 tahun. Tadinya mau berempat pergi ke tasyakuran; Bapak, Ibu, Nisa, dan suaminya, Burhan. Kalau seperti ini, berarti SesQ sendirian di rumah. Karenanya sejak pagi, saya mengusulkan istri saya untuk ikut saja. Lumayan, nggak kesepian sekaligus ikutan makan gratis :D

Setelah menyelesaikan conference berempat dengan Mas Taufik, Adhi, dan mas Fatahah, saya segera meluncur ke kampus ITB. Kali ini acara tasyakuran diselenggarakan di taman Fisika. Kabarnya sih karena wisudawannya banyak, sehingga tidak mencukupi jika diadakan di 'aula' fisika depan lab elka.

Acara sudah hampir selesai ketika saya menginjakkan kaki di tempat acara. Tak mengapa. Karena orang seperti saya (bukan wisudawan) hanya butuh bertemu dengan kawan-kawan lainnya. (makanan juga tentunya :p ) Alhamdulillah, angkatan 2002 semakin sedikit yang tertinggal. Farid dan Fariz akhirnya berhasil menyelesaikan studi S1nya. Rida juga wisuda, tapi S2. Ketiganya adalah angkatan 2002. Yang belum lulus masih ada beberapa orang lagi, seperti Ajuy, Galih, dan Andre. (siapa lagi ya?)

Ada juga kang Muizz, yang seminggu setelah wisuda (S2) akan kembali diwisuda. Kali ini di depan petugas KUA. Barakallahu laka. Kang Muizz datang bersama ibu dan neneknya. Mereka ini dulunya adalah tetangga saya, waktu di Solo. Tapi kenalnya baru sekarang, waktu sama-sama kuliah di ITB. hmm... What a small world.

Rangkaian acara berakhir sekitar setengah enam sore, dilanjutkan dengan makan-makan. Seperti biasa, prodi Fisika selalu menyiapkan makanan yang berlimpah, meski tidak ada menu nasi. Menunya sepertinya sudah menjadi standar tasyakuran wisuda: Sate, Baso Tahu, Bihun Baso, Puding, jus, dan beberapa makanan kecil. Tidak terlalu beragam, tetapi jumlahnya sangat banyak. Dahulu, kami selalu menanti berakhirnya acara, kemudian keluar membawa piring dan kembali ke lab dengan piring penuh berisi baso tahu. Senangnya... :)

Setelah acara selesai kami shalat maghrib di masjid Salman. Alhamdulillah, kembali bertemu dengan banyak kawan (seperti biasa). Bapak saya terlihat begitu bahagia malam itu. Betapa tidak, dalam umur yang masih relatif muda sudah punya 4 orang anak yang sudah wisuda semua, 3 ITB dan 1 ITS. Yang ITB: Nisa, saya, dan istri saya. Yang ITS: mas Burhan, suaminya Nisa.

Selesai sholat kami pulang. Tapi karena saya datang dengan menggunakan motor, maka saya tidak pulang bareng. Sebelum pulang bertemu dengan Army dan tanpa sengaja teringat tentang aksi yang direncanakan pada malam itu. Jadi terpikir untuk ikut meramaikan. Akhirnya, sebelum pulang saya menyempatkan diri untuk hadir di taman Dago. Lumayan, hitung-hitung melepas penat dan berkontribusi memenangkan Trendi untuk Bandung Satu.

Pada aksi kali ini, menampilkan teater yang dibawakan oleh teman-teman dari karisma. Secara resmi aksi ini diselenggarakan oleh Aliansi Mawar, Aliansi Mahasiswa - Rakyat Bandung. Di tengah aksi teater ini, kami membagi-bagikan bunga mawar hitam dan selebaran yang berisi "Mati Rasa", singkatan dari Lima Belas Kaprhatinan Rakyat Sa-Bandung. Isinya adalah fakta-fakta tentang kegagalan kang Dada dalam memimpin kota Bandung. Poin-poinnya sudah lupa. Mungkin kalau dapat lagi selebarannya, akan saya post di sini.

Kamis, 17 Juli 2008

PKS menolak PLTSa?

Heran, kenapa ada opini seperti itu ya?

Pengen bahas, tapi belum sempat. Ada rikues? Kalau memang ada, saya tuliskan pembahasannya.

Rabu, 16 Juli 2008

Butuh Pinjaman... *updated

Ada seorang ikhwah yang tinggal di daerah Sarijadi. Adiknya mau didaftarkan ke SMK Puragabaya, tetapi tidak ada uang untuk pendaftarannya. Padahal hari ini adalah hari terakhir pendaftaran. Beliau sedang mencari pinjaman untuk kebutuhan ini.

Biaya yang dibutuhkan adalah satu setengah juta rupiah. Saat ini sudah mendapatkan pinjaman 500 ribu. Masih kurang satu juta lagi. Sangat dinanti uluran tangan dari ikhwah sekalian. Tidak harus memberi pinjaman semuanya, tapi bisa diakumulasikan dari dana dan donatur (kreditur) yang bersedia.

Jika ada yang bersedia membantu, silakan hubungi saya (bisa ym atau hp).

nb: Peluang amal ini hanya sampai siang ini, jam 12.

update:

Alhamdulillah

Dalam waktu kurang dari dua jam terkumpul uang pinjaman sebesar satu juta rupiah. Insya Allah siang ini akan segera disampaikan ke yang bersangkutan.

Semoga bantuannya mendapatkan balasan dari Allah yang berlipat-lipat.

Amiien

Senin, 07 Juli 2008

Bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada

Tentunya anda sudah sering mendengar bait judul tersebut. Itu adalah salah satu nasyid yang dinyanyikan oleh Shoutul Harokah, yang belakangan ini sering diputar di mana-mana. Mulai dari mp3 komputer di kantor, radio MQ FM (walaupun sekarang sedang hiatus, cmiiw), acara-acara partai, dan lain sebagainya.

Yang saya tangkap dari lagu tersebut, sebenarnya harapan yang dimaksud adalah PKS atau kader PKS. Tapi saya pribadi mencoba untuk bersikap lebih fair dalam menyimpulkan harapan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini.

Melihat tren pemberitaan semua media massa beberapa bulan terakhir, kita akan senantiasa dibuat miris dengan keadaan bangsa ini. Mulai dari pemberitaan semakin susahnya hidup rakyat, gagalnya atlet-atlet kita dalam event-event internasional, sampai korupsi lembaga tinggi yang terungkap tiada henti. Singkat kata, sepertinya sudah tidak ada lagi harapan bagi negeri ini.

Tetapi kalau kita mencoba jujur memperhatikan setiap lapis komponen bangsa, sebenarnya kita tidak perlu sampai pada kesimpulan seperti itu. Terlalu banyak potensi bangsa yang belum muncul, yang sebenarnya bisa menjadi harapan bagi kebangkitan kembali negeri ini. Terlalu banyak alasan yang bisa menyanggah kesimpulan kebangkrutan negeri ini.

Sebut saja kekayaan alam. Negeri ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan tak habis-habis. Meskipun sudah dieksploitasi tak terkontrol selama puluhan tahun, tapi lihat, ternyata masih banyak juga yang belum dieksploitasi. Jadi jangan khawatir kita kehabisan kekayaan alam. Karena ketika kejujuran sudah menguasai negeri ini, sebenarnya modal sumber daya alam yang bisa menjadi amunisi masih tersedia dalam jumlah yang sangat melimpah.

Kemudian kekayaan intelektual, termasuk juga didalamnya kekayaan manusia. Walaupun koruptor benar-benar sudah merajalela di negeri ini, tetapi sebenarnya kekuatan anti-korupsi juga bekerja dengan sangat hebatnya membangun kekuatan. Inilah yang membuat kami meyakini bahwa harapan itu ada. Bahkan tidak sekadar ada, tapi luas membentang.

Di lembaga pemerintahan, banyak idealis yang menunggu lahirnya pemimpin yang juga idealis, untuk menggunakan tenaga mereka. Di dunia bisnis dan ekonomi, banyak idealis yang menunggu munculnya kesempatan ideal (atau semi ideal) untuk kebangkitan usaha mereka. Di dunia parlemen, juga banyak para idealis yang suaranya masih terbenam di belantara para koruptor dan yang mementingkan perut sendiri. Di dunia eksekutif juga sama. Di dunia pendidikan apalagi. Singkat kata, harapan untuk kebangkitan negeri kita masih ada.

Tidak! Tidak sekadar masih ada, tapi masih luas terbentang. Tinggal, apakah kita akan menjadi bagian dari harapan itu, ataukah sekadar bagian dari beban bangsa yang menyebabkan harapan seolah tidak ada lagi. Itu semua pilihan kita.

Wallahu a'lam.

Jumat, 04 Juli 2008

Terima Kasih Kang Dada (konteks pilkada)

Masa pencoblosan pilkada kota Bandung masih lama, kampanye belum dimulai, bahkan calon resmi yang akan mengikuti pilkada pun belum ditetapkan oleh KPUD Kota Bandung. Tetapi di seluruh penjuru kota sudah bisa kita lihat foto-foto para calon yang terpampang dalam banner-banner, spanduk, baligo, pamflet, stiker, dan lain sebagainya.

Dalam konteks ini, saya tidak sedang ingin menyalahkan siapa-siapa. Saya tidak akan menunjuk calon tertentu atau pihak yang bertanggung jawab terhadap pembersihan segala atribut tersebut.

Tetapi saya sebagai pendukung pasangan Trendi mengucapkan terima kasih pada kang Dada. Terima kasih, karena sejak jauh hari (sekira satu tahun sebelumnya) sudah mulai memasang fotonya di mana-mana. Memang beliau adalah walikota ketika itu. Tetapi jujur saja, bagi saya aneh, kenapa baru pada satu tahun terakhir kepengurusan beliau memasang foto-foto raksasa itu?

Ketika kita memasuki masa-masa menjelang pilkada seperti ini, kita sudah mendapati foto-foto kang Dada terpasang di mana-mana. Walaupun beliau sudah mengundurkan diri dari jabatan walikota karena hendak mencalonkan kembali, tetapi foto-foto tersebut tidak dengan sendirinya dilepas.

Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan yang luar biasa antara kepopuleran kang Dada dengan calon yang lain. Karenanya menjadikan suatu hal yang wajar ketika calon yang lain, termasuk calon yang saya dukung: Trendi, juga ikut memasang fotonya di mana-mana. Kalau kemudian ada yang mengusik tentang "curi start kampanye", secara hukum kita semua tidak bisa ditindak, karena berada di celah hukum yang sudah disepakati, walaupun tentunya secara moral seharusnya tidak dilakukan.

Tetapi kalau kami tidak ikutan, maka kapan kami akan memperkenalkan calon kami? Apakah hanya pada 12 hari kampanye itu saja? Please... Jangan bercanda.

Karenanya, saya pribadi berterima kasih kepada kang Dada, karena pemasangan foto-foto raksasa kang Dada di mana-mana membuat kami wajar untuk ikutan memasang foto-foto calon kami.

Sekali lagi, terima kasih kang Dada, karena sudah memberi alasan untuk mensosialisasikan calon kami.