Ya Allah...
Sadarkanlah orang-orang PDIP itu.
Berikanlah keluasan hati kepada orang-orang PDS itu.
Dan juga lapangkanlah hati sebagian anggota PKB itu.
Sehingga RUU Pornografi bisa disahkan hari ini.
Amiiin....
berita
Kamis, 30 Oktober 2008
Senin, 20 Oktober 2008
Reviewing My Blog
Sebenarnya saya sudah cukup lama nge-blog. Dalam arsip blog ini, artikel pertama tercatat diposting bulan Agustus 2004. Dan itu berarti sudah lebih dari 4 tahun yang lalu. Menurut mas Enda dalam salah satu surveynya beberapa waktu yang lalu, seorang blogger yang sudah ngeblog lebih dari satu tahun sudah termasuk blogger senior. Kalau begitu, ternyata saya bisa dikategorikan sangat senior :D
Pada awalnya blog saya memang bukan ini. Sebelumnya saya menggunakan account di blogger dengan nickname standar saya: fathinashrullah. (hingga saat ini blognya milik saya, sedang direncanakan digunakan untuk hal-hal yang lebih formal) Kemudian ketika blogger dibeli oleh Google dan accountnya disesuaikan dengan account Google, saya mendapatkan beberapa kesulitan setiap kali hendak mengupdate atau sekedar memanage isi blog. Akhirnya saya mencoba layanan lain dan terpilihlah wordpress ini. Apalagi setelah saya menemukan fitur import data, segera saya import semua postingan dan komentar saya terdahulu di blog lama tadi. Jadilah, blog ini sebagai blog baru saya.
Aktivitas ngeblog bagi saya adalah sarana untuk berbagi dan menjalin silaturahmi. Berbagi ide, wacana, cerita, serta berhubungan dengan teman-teman lain di dunia maya. Ada teman yang memang sebelumnya sudah saya kenal, ada juga teman yang baru kenal di dunia blog kemudian berlanjut di dunia nyata. Sangat menyenangkan membaca cerita-cerita mereka di dunia baru yang mereka tempati. Ada yang bercerita tentang pekerjaannya, aktivitasnya sehari-hari, pemikirannya, dan lain-lain.
Adalah suatu hal yang sangat menantang ketika tulisan kita yang berisi pemikiran, pendapat akan suatu hal mendapatkan respon komentar dari teman-teman. Itu bisa memancing kita untuk semakin giat berfikir dan menuliskannya kembali. Begitulah memang cara kita berkembang. Bertindak-mendapatkan saran-perbaiki-mendapatkan respon lagi-kemudian menyempurnakan. Begitu seterusnya. Dengan blog, maka metode tersebut semakin mudah terpenuhi. Maka, semakin banyak juga bermunculan manusia-manusia kritis, karena mereka dilatih untuk berfikir sistematis dan terstruktur dalam format menulis.
Saya setuju dengan gagasan Anis Matta di blognya bahwa seorang pemimpin wajib memiliki dua softskill utama: menulis dan orasi. Keduanya pada hakikatnya serupa: metode untuk menyampaikan pendapat. Seorang pemimpin adalah seorang yang handal dalam berpikir dan bertindak cepat. Karenanya dia memiliki metode standar di dalam kepalanya dalam bertindak dan memutuskan suatu langkah. Ini harus dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Menulis adalah salah satu cara melatihnya. Dengan menulis, alur pikiran kita akan lebih terstruktur dan sistematis. Dan dengan membiasakan menulis sebelum berbicara, maka alur pembicaraan kita juga akan sistematis.
Kembali lagi ke tujuan utama postingan ini: Reviewing My Blog.
Kategori tulisan terbanyak adalah tulisan lama. Tulisan-tulisan tersebut berasal dari blog saya terdahulu, yang memang belum cukup baik pengkategoriannya. Kategari terbanyak berikutnya adalah forum-2002. Aslinya ini adalah tulisan-tulisan saya di milis forum-2002 yang saya kelola. Beberapa kali menulis cukup panjang, dan pada suatu saat saya merasa alangkah lebih baik jika tulisan-tulisan tersebut saya posting saja di blog ini. Hitung-hitung bisa menjadi kenangan pribadi di saat tua nanti :D
Kategori berikutnya adalah Indonesia. Ini adalah pemikiran-pemikiran saya terkait negara ini. Ada yang berisi kritik, politik, dan lain sebagainya. Biasanya, kategori ini beririsan juga dengan kategori-kategori bandung, pemerintah, politik, dan beberapa lainnya, karena memang menurut saya ada hubungannya antar kategori tersebut.
Kalau menilik dari tanggal posting, kita bisa melihat sangat tidak frekuentif. Kadang sering, kadang jarang. Tapi memang saya mulai rajin posting adalah sejak awal tahun ini. Dulu, saya cenderung tidak suka jika blog saya dibaca orang lain, karena postingannya memang agak bersifat konsumsi sendiri. Karenanya belum ada postingan seputar pernikahan saya, misalnya.
Sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin saya share dalam tulisan-tulisan saya. Tapi apalah daya, ternyata kecepatan menulis saya tidak secepat lintasan-lintasan ide dalam kepala saya. Barangkali memang perlu untuk memulai menginventarisasi berbagai macam ide yang berkelebatan di kepala. Ada ide bagaimana caranya?
Akhir kata, blog ini, sesuai tagnya: curahan ide curahan hati, memang bukanlah media jurnalisme. Ini hanyalah sebuah blog, yang menyampaikan ide dan hati penulisnya; saya. Jangan diambil hati jika ada yang menyinggung perasaan. Kalau ada yang mengganjal, sampaikan saja. Tak ada moderasi dalam berkomentar di sini (tapi teutuep, saya bisa ngehapus :p ). Tak perlu sungkan menegur. Jika ada yang benar, maka sesungguhnya itu dari Allah sahaja. Jika ada yang salah, maka sesungguhnya saya minta Allah segera menegur serta mengajari saya bagaimana sebenarnya kebenaran itu.
Pada awalnya blog saya memang bukan ini. Sebelumnya saya menggunakan account di blogger dengan nickname standar saya: fathinashrullah. (hingga saat ini blognya milik saya, sedang direncanakan digunakan untuk hal-hal yang lebih formal) Kemudian ketika blogger dibeli oleh Google dan accountnya disesuaikan dengan account Google, saya mendapatkan beberapa kesulitan setiap kali hendak mengupdate atau sekedar memanage isi blog. Akhirnya saya mencoba layanan lain dan terpilihlah wordpress ini. Apalagi setelah saya menemukan fitur import data, segera saya import semua postingan dan komentar saya terdahulu di blog lama tadi. Jadilah, blog ini sebagai blog baru saya.
Aktivitas ngeblog bagi saya adalah sarana untuk berbagi dan menjalin silaturahmi. Berbagi ide, wacana, cerita, serta berhubungan dengan teman-teman lain di dunia maya. Ada teman yang memang sebelumnya sudah saya kenal, ada juga teman yang baru kenal di dunia blog kemudian berlanjut di dunia nyata. Sangat menyenangkan membaca cerita-cerita mereka di dunia baru yang mereka tempati. Ada yang bercerita tentang pekerjaannya, aktivitasnya sehari-hari, pemikirannya, dan lain-lain.
Adalah suatu hal yang sangat menantang ketika tulisan kita yang berisi pemikiran, pendapat akan suatu hal mendapatkan respon komentar dari teman-teman. Itu bisa memancing kita untuk semakin giat berfikir dan menuliskannya kembali. Begitulah memang cara kita berkembang. Bertindak-mendapatkan saran-perbaiki-mendapatkan respon lagi-kemudian menyempurnakan. Begitu seterusnya. Dengan blog, maka metode tersebut semakin mudah terpenuhi. Maka, semakin banyak juga bermunculan manusia-manusia kritis, karena mereka dilatih untuk berfikir sistematis dan terstruktur dalam format menulis.
Saya setuju dengan gagasan Anis Matta di blognya bahwa seorang pemimpin wajib memiliki dua softskill utama: menulis dan orasi. Keduanya pada hakikatnya serupa: metode untuk menyampaikan pendapat. Seorang pemimpin adalah seorang yang handal dalam berpikir dan bertindak cepat. Karenanya dia memiliki metode standar di dalam kepalanya dalam bertindak dan memutuskan suatu langkah. Ini harus dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Menulis adalah salah satu cara melatihnya. Dengan menulis, alur pikiran kita akan lebih terstruktur dan sistematis. Dan dengan membiasakan menulis sebelum berbicara, maka alur pembicaraan kita juga akan sistematis.
Kembali lagi ke tujuan utama postingan ini: Reviewing My Blog.
Kategori tulisan terbanyak adalah tulisan lama. Tulisan-tulisan tersebut berasal dari blog saya terdahulu, yang memang belum cukup baik pengkategoriannya. Kategari terbanyak berikutnya adalah forum-2002. Aslinya ini adalah tulisan-tulisan saya di milis forum-2002 yang saya kelola. Beberapa kali menulis cukup panjang, dan pada suatu saat saya merasa alangkah lebih baik jika tulisan-tulisan tersebut saya posting saja di blog ini. Hitung-hitung bisa menjadi kenangan pribadi di saat tua nanti :D
Kategori berikutnya adalah Indonesia. Ini adalah pemikiran-pemikiran saya terkait negara ini. Ada yang berisi kritik, politik, dan lain sebagainya. Biasanya, kategori ini beririsan juga dengan kategori-kategori bandung, pemerintah, politik, dan beberapa lainnya, karena memang menurut saya ada hubungannya antar kategori tersebut.
Kalau menilik dari tanggal posting, kita bisa melihat sangat tidak frekuentif. Kadang sering, kadang jarang. Tapi memang saya mulai rajin posting adalah sejak awal tahun ini. Dulu, saya cenderung tidak suka jika blog saya dibaca orang lain, karena postingannya memang agak bersifat konsumsi sendiri. Karenanya belum ada postingan seputar pernikahan saya, misalnya.
Sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin saya share dalam tulisan-tulisan saya. Tapi apalah daya, ternyata kecepatan menulis saya tidak secepat lintasan-lintasan ide dalam kepala saya. Barangkali memang perlu untuk memulai menginventarisasi berbagai macam ide yang berkelebatan di kepala. Ada ide bagaimana caranya?
Akhir kata, blog ini, sesuai tagnya: curahan ide curahan hati, memang bukanlah media jurnalisme. Ini hanyalah sebuah blog, yang menyampaikan ide dan hati penulisnya; saya. Jangan diambil hati jika ada yang menyinggung perasaan. Kalau ada yang mengganjal, sampaikan saja. Tak ada moderasi dalam berkomentar di sini (tapi teutuep, saya bisa ngehapus :p ). Tak perlu sungkan menegur. Jika ada yang benar, maka sesungguhnya itu dari Allah sahaja. Jika ada yang salah, maka sesungguhnya saya minta Allah segera menegur serta mengajari saya bagaimana sebenarnya kebenaran itu.
Kamis, 16 Oktober 2008
Perfilman Indonesia, sedang menuju akhir (lagi)?
Kalau mengamati tren tema film-film Indonesia saat ini, kita akan mendapatkan tema yang nyaris itu-itu saja: Komedi Seks (mereka menyebutnya komedi dewasa), horor, dan percintaan remaja. Nyaris seluruhnya berputar di sekitar tema yang serupa, tidak kreatif.
Sepertinya kita kembali diingatkan pada masa-masa menjelang perfilman Indonesia mati sekitar satu setengah dekade yang lalu. Kala itu, film-film yang diproduksi lebih banyak di seputar film horor dan seks. Memang kisah percintaan abg atau anak muda tidak seheboh sekarang. Tapi bukan berarti kisah-kisah serupa tidak ada.
Sebenarnya, saya berharap mulai ada film-film yang lebih menantang. Katakanlah tentang infiltrasi TNI di OPM di Papua, atau tentang reserse yang menyelidiki penyebaran narkotika, atau tentang perjanjian damai Malino atau perjanjian damai dengan GAM. Atau bisa juga memfilmkan cerita-cerita fiksi seputar Imam Samudra atau Jamaah Islamiyah yang beberapa tahun lalu sering dipaparkan di pengadilan. Kayaknya bakal seru tuh. Jangan lupa juga tambahkan efek-efek wah seperti ledakan, tabrakan mobil, pesawat jatuh, atau yang sebangsanya.
Kalau ada film berkualitas, sifatnya masih sangat kasuistik. Hanya beberapa buah setahunnya. Padahal ada puluhan hingga ratusan judul film yang rilis dalam satu tahun. Jadi kita belum bisa mengatakan pada dunia bahwa perfilman kita mulai maju hanya dengan menunjuk Ayat-Ayat Cinta atau Laskar Pelangi. Apakah Asoy Geboy, DO, Mau Lagi, Quickie Ekspres, Sarang Kuntilanak, Rumah Pocong, dsb harus kita tutup-tutupi??
Sepertinya kita kembali diingatkan pada masa-masa menjelang perfilman Indonesia mati sekitar satu setengah dekade yang lalu. Kala itu, film-film yang diproduksi lebih banyak di seputar film horor dan seks. Memang kisah percintaan abg atau anak muda tidak seheboh sekarang. Tapi bukan berarti kisah-kisah serupa tidak ada.
Sebenarnya, saya berharap mulai ada film-film yang lebih menantang. Katakanlah tentang infiltrasi TNI di OPM di Papua, atau tentang reserse yang menyelidiki penyebaran narkotika, atau tentang perjanjian damai Malino atau perjanjian damai dengan GAM. Atau bisa juga memfilmkan cerita-cerita fiksi seputar Imam Samudra atau Jamaah Islamiyah yang beberapa tahun lalu sering dipaparkan di pengadilan. Kayaknya bakal seru tuh. Jangan lupa juga tambahkan efek-efek wah seperti ledakan, tabrakan mobil, pesawat jatuh, atau yang sebangsanya.
Kalau ada film berkualitas, sifatnya masih sangat kasuistik. Hanya beberapa buah setahunnya. Padahal ada puluhan hingga ratusan judul film yang rilis dalam satu tahun. Jadi kita belum bisa mengatakan pada dunia bahwa perfilman kita mulai maju hanya dengan menunjuk Ayat-Ayat Cinta atau Laskar Pelangi. Apakah Asoy Geboy, DO, Mau Lagi, Quickie Ekspres, Sarang Kuntilanak, Rumah Pocong, dsb harus kita tutup-tutupi??
Jumat, 10 Oktober 2008
Masih Tentang Pendidikan
Sebenarnya ini komentar untuk komentar mas Galih yang ini, tetapi ternyata kepanjangan, dan saya berpikir untuk mempost-nya sebagai tulisan terpisah.
Wah, senang dikomentari sangat panjang oleh mas Galih. Sebelumnya, saya juga mau mengucapkan selamat dulu atas kelulusannya. Kapan-kapan juga ingin mengomentari tulisannya mas Galih. Tapi sayang, semua tulisannya berada di seputaran dunia Farmasi dan dunia bisnisnya, jadi saya tidak terlalu nyambung.
Memang postingan saya di atas hanya berupa uneg-uneg yang keluar ketika mendapatkan sebuah email broadcast di milis icmi. Entah kenapa, mungkin karena berhubungan dengan dunia pendidikan, saya jadi terpancing untuk ikut mengomentari.
Saya memang tidak sedang membahas sistem pendidikan secara holistik. Saya hanya menanggapi beberapa pertanyaan yang diajukan mas AZA. Mungkin suatu saat saya bisa menyusun tulisan tentang pendidikan yang lebih lengkap, sehingga bisa menjadi bahasan yang lebih luas.
Kalau mas Galih menyebutkan target pendidikan adalah "Sikap dewasa" dan "Sadar yang kritis", maka itulah sebenarnya (kurang lebih) yang saya maksudkan dengan "standar absolut kesejahteraan". Dan itu adalah wajib dipenuhi oleh semua warga masyarakat. Kenapa? Agar mereka dapat memposisikan diri mereka sendiri, mengenali diri mereka sendiri, dan kemudian juga dapat menentukan peran apa yang ingin mereka ambil dalam masyarakat yang dia berada di dalamnya.
Mungkin singkatnya begini: Bukan kewajiban pemerintah saja yang harus menyediakan makanan, pekerjaan, sarana kesehatan, transportasi, dan lain sebagainya bagi seluruh rakyat. Tetapi pemerintah harus bisa mengkoordinasikan rakyatnya bagi penyejahteraan seluruh rakyat. Dan jika mereka tidak memiliki standar absolut kesejahteraan ini, maka sampai kapan pun mereka tidak akan bisa digerakkan untuk menjadi batu bata penguat bangsa, sehingga kewajiban memberi makan, pekerjaan, dsb, kembali jatuh hanya pada pemerintah saja (a.k.a presiden, menteri, gubernur, walikota, dinas-dinas, pns, dan yang semacamnya).
Mengenai apa pekerjaan mereka, berapa penghasilan mereka, dan lain sebagainya, saya menempatkannya sebagai suatu ukuran relatif untuk kesejahteraan. Kenapa? Karena setiap kepala memiliki penilaiannya masing-masing atas segala sesuatu. Ada yang berpendapat bahwa akademis adalah mutlak, sehingga bertekad meneruskan pendidikan sampai rela untuk tidak menikah dan tidak bekerja. Ada yang berpendapat bahwa wirausaha adalah keharusan bagi dirinya, ada pula yang berpendapat bahwa profesional harus menjadi jalan hidupnya, dan lain sebagainya.
Itu semua bukan masalah utama kesejahteraan. Tetapi ketika mereka tidak mampu memilih sesuatu untuk dirinya, di situlah masalah terjadi. Karenanya, banyak terjadi pengangguran, padahal terlalu banyak pekerjaan rumah yang dimiliki negeri ini bahkan untuk dikerjakan oleh semua penduduk sekalipun. Terjadi juga kelaparan, padahal potensi pangan tersedia terlalu melimpah untuk seluruh rakyat.
Dan tujuan pendidikan ini sebenarnya tidak harus ditempuh melalui jalur pendidikan formal. Hanya saja, bagaimanapun kita harus mengakui bahwa keformalan selalu identik dengan terkoordinasi. Untuk pendidikan dua ratus juta lebih rakyat Indonesia, kita jangan berharap dari sesuatu yang tidak terkoordinasi. Karenanya, "sekolah" menjadi hal yang penting. Tetapi, bagi saya pendidikan yang dimaksud di sini adalah "pendidikan dasar dan menengah".
Akan halnya pendidikan tinggi, posisinya jelas-jelas berbeda. Bukan sekedar untuk mendewasakan diri serta membangun kesadaran kritis, tapi lebih jauh dari itu, bahwa pendidikan tinggi adalah institusi penelitian yang dampaknya luas. Bukan sekedar untuk diri sendiri, tetapi skalanya negeri. Karenanya, pendidikan tinggi ini berhubungan dengan usaha negara meningkatkan taraf hidup rakyatnya.
Akan halnya ada mahasiswa yang belum dewasa dan kritis, maka sebenarnya yang bermasalah adalah pendidikan dasar dan menengahnya. Dan memang, untuk saat ini sedang membutuhkan reformulasi yang sangat luar biasa.
Selasa, 07 Oktober 2008
Sistem Pendidikan Kita (semi dialog)
Ada email dari mas Achmad Zaenal Abidin (AZA) di milis kalam yang mempertanyakan tentang sistem pendidikan di negara kita. Sebenarnya sudah sering sekali mas AZA ini mengirim email-email seperti ini, baik ke milis kalam, icmi, atau indonesia next better. Tapi formatnya seringkali 'agak' serampangan i.e. format tidak teratur, yang diajak diskusi tidak jelas (karena dikirim ke banyak sekali milis), subjectnya kepanjangan, dsb.
Entah kenapa, kali ini saya ingin mencoba me-reply. Setelah saya tulis, ternyata cukup panjang. Dan setelah dipikir-pikir, cocok juga untuk jadi artikel tersendiri di blog ini.
Silakan dikritisi.
Apakah ada yang bisa memberikan pencerahan mengapa SD 6 tahun ? mengapa SMP 3 tahun, mengapa SMA 3 tahun ? dan mengapa perguruan tinggi 9 semester ?
Ada kurikulum yang sudah disusun sebelumnya. Kurikulum tersebut dijabarkan pada tataran teknis sehingga menghasilkan angka-angka seperti itu (6 tahun, 3 tahun, dsb). Apakah harus selalu sama waktunya? Tentu tidak. Makanya ada yang bisa SD kurang dari 6 tahun, ada kelas akselerasi, ada yang S1 3 tahun, dsb.
Mengapa banyak pengulangan dari SD sampai SMA untuk mata pelajaran bahasa Indonesia ? Mengapa terjadi pengulangan untuk SMP dan SMA pelajaran sejarah, matematik, bahasa Inggris, biologi, Fisika, Kewarga negaraan dan sebagainya bahkan sampai kuliah ?
Pernah dengar istilah “spiral” dalam terminologi pengajaran? Kita akan selalu mengulangi pelajaran yang sejenis dalam proses belajar kita, tentunya dengan pendalaman materi. Misalnya begini, di SD kita mengenal angka. Di SMP kita mengenal angka dalam basis berbeda. Di SMA kita mengenal angka dalam koefisien-koefisien dan konstanta-konstanta. Di perkuliahan kita mengenal angka dalam dunia yang berbeda lagi. Tapi semuanya sejenis, mengenal angka.
Dalam dunia perkuliahan juga sebenarnya tidak banyak berbeda. Jika anda kuliah di jurusan fisika di perguruan tinggi manapun, anda akan menemukan pelajaran yang selalu diulang-ulang. Di tingkat satu, kita mempelajari gelombang dalam mata kuliah fisika dasar. Di tingkat dua, kita pelajari kembali gelombang dalam persamaan-persamaan yang lebih kompleks pada mata kuliah Fisika Matematika atau Kalkulus Lanjutan. Di tingkat tiga, lebih dalam lagi dipelajari dalam mata kuliah Gelombang. Bahkan di tingkat empat pun kita masih akan bergelut dengan gelombang, jika tugas akhir anda mengambil topik di sekitar fisika bumi, elektronika, atau bidang-bidang yang lainnya.
Apakah tidak mungkin menjadi sarjana dalam waktu 18 tahun ?
Senin, 06 Oktober 2008
Masih berada di antara kebimbangan
Pernahkah anda berada di tengah-tengah kondisi yang sebenarnya kondisi-kondisi tersebut sangat anda sukai dan anda inginkan, tetapi tidak kunjung muncul pertanda yang bisa membuat anda memilih salah satu di antara keduanya?
Anda tahu bahwa anda akan segera mendapatkan beasiswa studi dengan nilai beasiswa dan fasilitas yang bagus, sementara anda saat ini juga bekerja di perusahaan yang anda tahu berpotensi bermasa depan cerah. Anda pun juga sebenarnya punya potensi untuk ikut terjun di dunia antah-berantah-bisnis yang sangat menantang itu. Tapi, sekali lagi, semuanya kompak untuk tidak menunjukkan tanda-tanda yang bisa membuat anda cenderung memutuskan memilih salah satunya dan melupakan lainnya.
Jika anda berada pada posisi seperti ini, maka anda berada dalam posisi kebimbangan. Bimbang, ingin terus atau mundur. Bimbang ingin memutuskan atau melanjutkan. Bimbang, dengan sejuta rasa di dalamnya. Rasa, bahwa anda tahu bahwa anda bisa sukses di segala pilihan tersebut.
Ya Allah...
Pilihkanlah yang terbaik untukku...
Amiiiin...
Anda tahu bahwa anda akan segera mendapatkan beasiswa studi dengan nilai beasiswa dan fasilitas yang bagus, sementara anda saat ini juga bekerja di perusahaan yang anda tahu berpotensi bermasa depan cerah. Anda pun juga sebenarnya punya potensi untuk ikut terjun di dunia antah-berantah-bisnis yang sangat menantang itu. Tapi, sekali lagi, semuanya kompak untuk tidak menunjukkan tanda-tanda yang bisa membuat anda cenderung memutuskan memilih salah satunya dan melupakan lainnya.
Jika anda berada pada posisi seperti ini, maka anda berada dalam posisi kebimbangan. Bimbang, ingin terus atau mundur. Bimbang ingin memutuskan atau melanjutkan. Bimbang, dengan sejuta rasa di dalamnya. Rasa, bahwa anda tahu bahwa anda bisa sukses di segala pilihan tersebut.
Ya Allah...
Pilihkanlah yang terbaik untukku...
Amiiiin...
Langganan:
Komentar (Atom)