Sabtu, 19 Juli 2008

PKS ke-PD-an?

Artikel ini adalah penjelasan saya atas pertanyaan akh Febri tentang pencalonan pak Taufik dan ust. Abu Syauqi. Dia bertanya penyebab majunya PKS sendirian, tanpa berkoalisi dengan pihak lain. Apakah memang gagal berkoalisi, atau malah kepedean karena pilgub kemaren (walaupun koalisi dengan PAN) menang 42%?

Berikut penjelasan dari saya.
Kalau saya tidak salah, beberapa waktu yang lalu saya sudah posting tentang proses perkembangan pilwalkot di milis ini.

Berdasarkan berbagai informasi yang insya Allah shahih, prosesnya berjalan cukup panjang. Dimulai dengan penarikan aspirasi secara luas di masyarakat tentang kota Bandung. Proses ini menggunakan hotline (saya lupa apa saja sarananya) yang dipublikasikan secara luas melalui spanduk-spanduk, sejak sekitar satu tahun yang lalu.

Kemudian dalam perkembangannya, banyak opsi yang muncul untuk pencalonan walikota ini. Di antara opsi yang sampai ke telinga saya adalah bergabung dengan kang Dada dengan satu syarat: jadi wakil. Kemudian opsi lain adalah berkoalisi dengan partai lain. Opsi pertama ditolak mentah-mentah oleh syuro karena berbagai macam hal, terutama catatan-catatan hitam selama 5 tahun kepemimpinannya.

Kemudian muncul koalisi poros tengah yang beranggotakan PBB, PD, PAN, dan PPP. Pada awalnya, poros tengah ini merapat ke kubu kang Dada, terutama setelah kang Dada shock karena PKS mendeklarasikan calonnya sendiri (yang berarti menolak mentah-mentah tawaran bergabung). Padahal menurut hitung-hitungan di atas kertas, jika PKS gabung dengan kang Dada, diprediksikan akan menang mutlak.

Tetapi kemudian poros tengah pun goyah ketika tahu bahwa yang dipilih kang Dada menjadi wakilnya adalah Ayi Vivananda, kader PDIP. Poros tengah cukup kaget karena secara matematika dewan, jumlah kursi poros tengah masih lebih banyak dari jumlah kursi golkar+pdip. Di tempat lain, PAN sedang merapat sangat dekat ke PKS, bahkan mengajukan 5 nama untuk diusung menjadi wakil kang Taufik. Tetapi ternyata pada deklarasi Dada-Ayi yang diselenggarakan dalam waktu bersamaan justru dihadiri oleh Deden Rukman Rumaji, ketua DPD PAN kota Bandung, yang namanya termasuk di antara 5 nama yang diajukan ke DPD PKS, bahkan ada kabar di bandung.detik bahwa Deden ini calon terkuat di antara 5 nama yang diajukan.

Saya menduga inilah yang menjadi alasan utama koalisi PKS-PAN gagal. Bisa dibayangkan, ketuanya saja sudah seperti itu, sementara di tingkat wilayah (DPW PKS dan DPW PAN jabar) sedang berusaha keras membicarakan kemungkinan koalisi. Karenanya ini menjadi pertanyaan besar, kalau koalisi ini jadi, apakah jajaran DPD PAN akan bekerja keras untuk pemenangan koalisi ini? Padahal pengalaman HADE kemaren di kota Bandung, PAN nyaris tidak kelihatan kerjanya.

Berdasarkan hal itu, koalisi dengan partai gagal tercipta. Tetapi bukan berarti opsi berikutnya adalah langsung maju sendirian. Masih ada juga opsi lain, yaitu bergabung dengan calon independen. Ada beberapa nama yang jauh-jauh hari sudah masuk ke DPD. Misalnya Indra Prawira, ibu Hetifah, dan Hudaya Prawira. Tapi mohon maaf, saya tidak mengetahui penyebab kegagalan koalisi dengan mereka.

Atas dasar berbagai macam kondisi yang terjadi, akhirnya syuro DPD memutuskan untuk memilih ust. Abu Syauqi maju menjadi calon wakil walikota. Nama Taufikurahman dan Abu Syauqi sendiri sudah digodok lama sebelum pendeklarasian. DPD mencari kader-kader terbaik yang dimiliki di kota Bandung. Ust. Abu Syauqi sejak jauh-jauh hari menolak menjadi Bandung 1, dan sudah menyampaikan keberatannya ke DPP PKS. Tetapi kemudian tetap direkomendasikan oleh DPD untuk menjadi Bandung 2, jika kemungkinan koalisi dengan elemen lainnya gagal.

Itu dulu mungkin informasi dari saya. Kalau ada yang mau menambahkan, silakan. Kalau ada yang mau mengkritik, silakan juga. Yang penting, jangan lupa doanya, dalam setiap habis shalat, dalam qiyamullaylnya, setiap sehabis al ma'tsurat, dan dalam segala kesempatan lainnya. Semoga pilkada ini kita bisa menang. Amin.

Dari Wisuda Sampai 'Mati Rasa'

Alhamdulillah, kemarin sore kembali berkesempatan mengunjungi kampus. Sedang ada syukuran wisuda di prodi Fisika. Adik saya, Shofia Aniisa, berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 4 tahun. Tadinya mau berempat pergi ke tasyakuran; Bapak, Ibu, Nisa, dan suaminya, Burhan. Kalau seperti ini, berarti SesQ sendirian di rumah. Karenanya sejak pagi, saya mengusulkan istri saya untuk ikut saja. Lumayan, nggak kesepian sekaligus ikutan makan gratis :D

Setelah menyelesaikan conference berempat dengan Mas Taufik, Adhi, dan mas Fatahah, saya segera meluncur ke kampus ITB. Kali ini acara tasyakuran diselenggarakan di taman Fisika. Kabarnya sih karena wisudawannya banyak, sehingga tidak mencukupi jika diadakan di 'aula' fisika depan lab elka.

Acara sudah hampir selesai ketika saya menginjakkan kaki di tempat acara. Tak mengapa. Karena orang seperti saya (bukan wisudawan) hanya butuh bertemu dengan kawan-kawan lainnya. (makanan juga tentunya :p ) Alhamdulillah, angkatan 2002 semakin sedikit yang tertinggal. Farid dan Fariz akhirnya berhasil menyelesaikan studi S1nya. Rida juga wisuda, tapi S2. Ketiganya adalah angkatan 2002. Yang belum lulus masih ada beberapa orang lagi, seperti Ajuy, Galih, dan Andre. (siapa lagi ya?)

Ada juga kang Muizz, yang seminggu setelah wisuda (S2) akan kembali diwisuda. Kali ini di depan petugas KUA. Barakallahu laka. Kang Muizz datang bersama ibu dan neneknya. Mereka ini dulunya adalah tetangga saya, waktu di Solo. Tapi kenalnya baru sekarang, waktu sama-sama kuliah di ITB. hmm... What a small world.

Rangkaian acara berakhir sekitar setengah enam sore, dilanjutkan dengan makan-makan. Seperti biasa, prodi Fisika selalu menyiapkan makanan yang berlimpah, meski tidak ada menu nasi. Menunya sepertinya sudah menjadi standar tasyakuran wisuda: Sate, Baso Tahu, Bihun Baso, Puding, jus, dan beberapa makanan kecil. Tidak terlalu beragam, tetapi jumlahnya sangat banyak. Dahulu, kami selalu menanti berakhirnya acara, kemudian keluar membawa piring dan kembali ke lab dengan piring penuh berisi baso tahu. Senangnya... :)

Setelah acara selesai kami shalat maghrib di masjid Salman. Alhamdulillah, kembali bertemu dengan banyak kawan (seperti biasa). Bapak saya terlihat begitu bahagia malam itu. Betapa tidak, dalam umur yang masih relatif muda sudah punya 4 orang anak yang sudah wisuda semua, 3 ITB dan 1 ITS. Yang ITB: Nisa, saya, dan istri saya. Yang ITS: mas Burhan, suaminya Nisa.

Selesai sholat kami pulang. Tapi karena saya datang dengan menggunakan motor, maka saya tidak pulang bareng. Sebelum pulang bertemu dengan Army dan tanpa sengaja teringat tentang aksi yang direncanakan pada malam itu. Jadi terpikir untuk ikut meramaikan. Akhirnya, sebelum pulang saya menyempatkan diri untuk hadir di taman Dago. Lumayan, hitung-hitung melepas penat dan berkontribusi memenangkan Trendi untuk Bandung Satu.

Pada aksi kali ini, menampilkan teater yang dibawakan oleh teman-teman dari karisma. Secara resmi aksi ini diselenggarakan oleh Aliansi Mawar, Aliansi Mahasiswa - Rakyat Bandung. Di tengah aksi teater ini, kami membagi-bagikan bunga mawar hitam dan selebaran yang berisi "Mati Rasa", singkatan dari Lima Belas Kaprhatinan Rakyat Sa-Bandung. Isinya adalah fakta-fakta tentang kegagalan kang Dada dalam memimpin kota Bandung. Poin-poinnya sudah lupa. Mungkin kalau dapat lagi selebarannya, akan saya post di sini.

Kamis, 17 Juli 2008

PKS menolak PLTSa?

Heran, kenapa ada opini seperti itu ya?

Pengen bahas, tapi belum sempat. Ada rikues? Kalau memang ada, saya tuliskan pembahasannya.

Rabu, 16 Juli 2008

Butuh Pinjaman... *updated

Ada seorang ikhwah yang tinggal di daerah Sarijadi. Adiknya mau didaftarkan ke SMK Puragabaya, tetapi tidak ada uang untuk pendaftarannya. Padahal hari ini adalah hari terakhir pendaftaran. Beliau sedang mencari pinjaman untuk kebutuhan ini.

Biaya yang dibutuhkan adalah satu setengah juta rupiah. Saat ini sudah mendapatkan pinjaman 500 ribu. Masih kurang satu juta lagi. Sangat dinanti uluran tangan dari ikhwah sekalian. Tidak harus memberi pinjaman semuanya, tapi bisa diakumulasikan dari dana dan donatur (kreditur) yang bersedia.

Jika ada yang bersedia membantu, silakan hubungi saya (bisa ym atau hp).

nb: Peluang amal ini hanya sampai siang ini, jam 12.

update:

Alhamdulillah

Dalam waktu kurang dari dua jam terkumpul uang pinjaman sebesar satu juta rupiah. Insya Allah siang ini akan segera disampaikan ke yang bersangkutan.

Semoga bantuannya mendapatkan balasan dari Allah yang berlipat-lipat.

Amiien

Senin, 07 Juli 2008

Bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada

Tentunya anda sudah sering mendengar bait judul tersebut. Itu adalah salah satu nasyid yang dinyanyikan oleh Shoutul Harokah, yang belakangan ini sering diputar di mana-mana. Mulai dari mp3 komputer di kantor, radio MQ FM (walaupun sekarang sedang hiatus, cmiiw), acara-acara partai, dan lain sebagainya.

Yang saya tangkap dari lagu tersebut, sebenarnya harapan yang dimaksud adalah PKS atau kader PKS. Tapi saya pribadi mencoba untuk bersikap lebih fair dalam menyimpulkan harapan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini.

Melihat tren pemberitaan semua media massa beberapa bulan terakhir, kita akan senantiasa dibuat miris dengan keadaan bangsa ini. Mulai dari pemberitaan semakin susahnya hidup rakyat, gagalnya atlet-atlet kita dalam event-event internasional, sampai korupsi lembaga tinggi yang terungkap tiada henti. Singkat kata, sepertinya sudah tidak ada lagi harapan bagi negeri ini.

Tetapi kalau kita mencoba jujur memperhatikan setiap lapis komponen bangsa, sebenarnya kita tidak perlu sampai pada kesimpulan seperti itu. Terlalu banyak potensi bangsa yang belum muncul, yang sebenarnya bisa menjadi harapan bagi kebangkitan kembali negeri ini. Terlalu banyak alasan yang bisa menyanggah kesimpulan kebangkrutan negeri ini.

Sebut saja kekayaan alam. Negeri ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan tak habis-habis. Meskipun sudah dieksploitasi tak terkontrol selama puluhan tahun, tapi lihat, ternyata masih banyak juga yang belum dieksploitasi. Jadi jangan khawatir kita kehabisan kekayaan alam. Karena ketika kejujuran sudah menguasai negeri ini, sebenarnya modal sumber daya alam yang bisa menjadi amunisi masih tersedia dalam jumlah yang sangat melimpah.

Kemudian kekayaan intelektual, termasuk juga didalamnya kekayaan manusia. Walaupun koruptor benar-benar sudah merajalela di negeri ini, tetapi sebenarnya kekuatan anti-korupsi juga bekerja dengan sangat hebatnya membangun kekuatan. Inilah yang membuat kami meyakini bahwa harapan itu ada. Bahkan tidak sekadar ada, tapi luas membentang.

Di lembaga pemerintahan, banyak idealis yang menunggu lahirnya pemimpin yang juga idealis, untuk menggunakan tenaga mereka. Di dunia bisnis dan ekonomi, banyak idealis yang menunggu munculnya kesempatan ideal (atau semi ideal) untuk kebangkitan usaha mereka. Di dunia parlemen, juga banyak para idealis yang suaranya masih terbenam di belantara para koruptor dan yang mementingkan perut sendiri. Di dunia eksekutif juga sama. Di dunia pendidikan apalagi. Singkat kata, harapan untuk kebangkitan negeri kita masih ada.

Tidak! Tidak sekadar masih ada, tapi masih luas terbentang. Tinggal, apakah kita akan menjadi bagian dari harapan itu, ataukah sekadar bagian dari beban bangsa yang menyebabkan harapan seolah tidak ada lagi. Itu semua pilihan kita.

Wallahu a'lam.

Jumat, 04 Juli 2008

Terima Kasih Kang Dada (konteks pilkada)

Masa pencoblosan pilkada kota Bandung masih lama, kampanye belum dimulai, bahkan calon resmi yang akan mengikuti pilkada pun belum ditetapkan oleh KPUD Kota Bandung. Tetapi di seluruh penjuru kota sudah bisa kita lihat foto-foto para calon yang terpampang dalam banner-banner, spanduk, baligo, pamflet, stiker, dan lain sebagainya.

Dalam konteks ini, saya tidak sedang ingin menyalahkan siapa-siapa. Saya tidak akan menunjuk calon tertentu atau pihak yang bertanggung jawab terhadap pembersihan segala atribut tersebut.

Tetapi saya sebagai pendukung pasangan Trendi mengucapkan terima kasih pada kang Dada. Terima kasih, karena sejak jauh hari (sekira satu tahun sebelumnya) sudah mulai memasang fotonya di mana-mana. Memang beliau adalah walikota ketika itu. Tetapi jujur saja, bagi saya aneh, kenapa baru pada satu tahun terakhir kepengurusan beliau memasang foto-foto raksasa itu?

Ketika kita memasuki masa-masa menjelang pilkada seperti ini, kita sudah mendapati foto-foto kang Dada terpasang di mana-mana. Walaupun beliau sudah mengundurkan diri dari jabatan walikota karena hendak mencalonkan kembali, tetapi foto-foto tersebut tidak dengan sendirinya dilepas.

Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan yang luar biasa antara kepopuleran kang Dada dengan calon yang lain. Karenanya menjadikan suatu hal yang wajar ketika calon yang lain, termasuk calon yang saya dukung: Trendi, juga ikut memasang fotonya di mana-mana. Kalau kemudian ada yang mengusik tentang "curi start kampanye", secara hukum kita semua tidak bisa ditindak, karena berada di celah hukum yang sudah disepakati, walaupun tentunya secara moral seharusnya tidak dilakukan.

Tetapi kalau kami tidak ikutan, maka kapan kami akan memperkenalkan calon kami? Apakah hanya pada 12 hari kampanye itu saja? Please... Jangan bercanda.

Karenanya, saya pribadi berterima kasih kepada kang Dada, karena pemasangan foto-foto raksasa kang Dada di mana-mana membuat kami wajar untuk ikutan memasang foto-foto calon kami.

Sekali lagi, terima kasih kang Dada, karena sudah memberi alasan untuk mensosialisasikan calon kami.

Kamis, 19 Juni 2008

Kenapa kang Dada dinilai gagal?

oleh: Fathi Nashrullah

Ada cukup banyak alasan kenapa kepemimpinan kang Dada saya nilai gagal. Secara garis besar sudah saya tuliskan di webnya kang Dada, walaupun dengan cara lain. Di antara kebijakan yang saya nilai sebagai kegagalan adalah sebagai berikut:

Penutupan Saritem.
Saya sama sekali tidak menolak penutupan Saritem. Seharusnya ini sudah dilakukan sejak jaman dahulu kala, bahkan seharusnya memang tidak pernah ada. Masalahnya, aura politik dalam penutupan Saritem ini sangat kental. Indikasinya, tidak ada pembinaan serius yang dilakukan pada PSK-PSK di sana. Setelah ditutup, yang dilakukan pemkot pada Saritem hanya sebatas razia saja. Kalau masih ada yang praktek, ditangkap. Secara sekilas kita akan mendapatkan kesan bahwa kang Dada adalah walikota yang luar biasa, berani menutup Saritem. Dengan demikian untuk pilwalkot berikutnya beliau akan mendapatkan dukungan dari para ibu-ibu majelis ta'lim yang jumlahnya sangat banyak di kota Bandung ini.

Akibatnya apa? Sekarang sudah terasa. PSK Bandung saat ini terdesentralisasi kemana-mana. Tempat-tempat yang dahulu tak ada PSKnya, sekarang jadi ada. Dari mana mereka? Ya dari Saritem itu. Mereka dilarang beroperasi kembali di sana (Saritem) dan mereka juga tidak dibina. Jadi semakin rusaklah kota Bandung.

PLTSa
Ini sebenarnya ide yang brillian. Hanya saja, dalam pelaksanaannya tidak melihat realitas yang ada. Ide ini muncul setelah kegagalan pemerintah kota mengolah sampah, pasca tragedi leuwigajah 2004 lalu. Kemudian justru muncul ide waste to energy (yang dimispersepsi sebagai PLTSa) yang ternyata proses perealisasiannya semrawut dan direncanakan akan dibangun di tengah pemukiman warga.

Kasus hotel Planet
Entah kenapa, kasusnya berlarut-larut. IMB jelas-jelas sudah dilanggar. Letaknya di depan rumah gubernur pula. Harusnya tindakannya tegas, seperti ketika pelarangan pendirian masjid di kantor gubernur. Saya masih curiga, jangan-jangan para mafia perjudian itu berhasil melobi pemkot.

Umbar izin pembangunan mal
Kalau yang ini nggak ketulungan mengesalkannya. Hanya dalam waktu beberapa tahun saja tiba-tiba muncul mal yang jumlahnya fantastis. Mari kita sebutkan satu persatu. Di jalan terusan pasteur ada BTC dan GIANT yang dibangun berdekatan dan hampir bersamaan. Kemudian ada BEC dan BeMAL serta IBCC yang jualannya sama persis. Ditambah lagi Lucky, Piset, Mollis, Hypermarket tengah kota (sekarang carrefour aja banyak sekali di Bandung, belum lagi Giant dan Hypermart), Riau Junction, Paskal Hypersquare, dsb. Belum lagi pembangunan FO-FO serta butik-butik, dan juga pengubahan-pengubahan fungsi bangunan kuno yang masuk kategori heritage kota Bandung.

Mengapa ini menjadi negatif? Karena pembangunan yang sedemikian banyaknya itu tidak berkorelasi positif dengan pembangunan sarana umum. Indikatornya sederhana: macet di mana-mana. Dengan semakin banyaknya mal, harusnya akses jalan raya juga semakin ditingkatkan (ditambah dan dilebarkan). Termasuk juga area parkir. Masak sih mau beralasan kalau jalannya sudah tidak mungkin dilebarkan? Padahal sebelum pembangunan gedung-gedung seperti itu, pasti ada AMDALnya. Termasuk juga analisis-analisis lain yang berkaitan dengan masyarakat di sekitarnya. Kalau memang jalannya tidak mungkin dilebarkan dan area parkir tidak mungkin ditambah, kenapa izin masih diberikan juga? Kenapa tidak disarankan untuk di bangun di tempat yang masih cukup jarang penduduknya, daerah Bandung selatan misalnya. Padahal konsekuensinya sudah jelas: macet di mana-mana.

Akhirnya, keluarlah kebijakan menggelikan itu: Jalan-jalan di kota Bandung dijadikan satu arah semua. Kita harus berputar-putar ketika hendak menuju ke satu tempat yang sebenarnya tidak terlalu jauh.

Sarana umum
Satu hal yang sangat mengesalkan di kota Bandung ini adalah sarana transportasi umumnya. Sudahnya tidak nyaman, mahal lagi. Akhirnya semua orang berlomba-lomba memiliki sepeda motor sendiri. Alasannya jelas: untuk jangka pendek relatif lebih nyaman dan lebih murah. Akibatnya kota Bandung sangat ramai dengan sepeda motor, ini mengakibatkan semakin susahnya mengatur penggunan jalan raya (peningkatan entropi jalan raya). Silakan saja bandingkan jalanan kota Bandung sekarang dan sepuluh tahun yang lalu. Berbeda jauh!

Keengganan menggunakan tenaga ahli
Cukup aneh memang kota Bandung ini. Kota yang memiliki ITB-UNPAD-UPI di dalamnya, plus PT-PT swasta yang sangat banyak, tapi pengelolaannya seperti ini. Kita belum bicara tentang PTDI-LEN-PINDAD yang bisa mendukung penyediaan sarana dan prasarana kota Bandung. Tapi kenapa kotanya acak-acakan seperti sekarang ini?

Sebenarnya di samping berbagai kegagalan, saya juga melihat beberapa indikasi keberhasilan. Mungkin akan saya coba paparkan di kesempatan yang lain.