Berikut penjelasan dari saya.
Kalau saya tidak salah, beberapa waktu yang lalu saya sudah posting tentang proses perkembangan pilwalkot di milis ini.
Berdasarkan berbagai informasi yang insya Allah shahih, prosesnya berjalan cukup panjang. Dimulai dengan penarikan aspirasi secara luas di masyarakat tentang kota Bandung. Proses ini menggunakan hotline (saya lupa apa saja sarananya) yang dipublikasikan secara luas melalui spanduk-spanduk, sejak sekitar satu tahun yang lalu.
Kemudian dalam perkembangannya, banyak opsi yang muncul untuk pencalonan walikota ini. Di antara opsi yang sampai ke telinga saya adalah bergabung dengan kang Dada dengan satu syarat: jadi wakil. Kemudian opsi lain adalah berkoalisi dengan partai lain. Opsi pertama ditolak mentah-mentah oleh syuro karena berbagai macam hal, terutama catatan-catatan hitam selama 5 tahun kepemimpinannya.
Kemudian muncul koalisi poros tengah yang beranggotakan PBB, PD, PAN, dan PPP. Pada awalnya, poros tengah ini merapat ke kubu kang Dada, terutama setelah kang Dada shock karena PKS mendeklarasikan calonnya sendiri (yang berarti menolak mentah-mentah tawaran bergabung). Padahal menurut hitung-hitungan di atas kertas, jika PKS gabung dengan kang Dada, diprediksikan akan menang mutlak.
Tetapi kemudian poros tengah pun goyah ketika tahu bahwa yang dipilih kang Dada menjadi wakilnya adalah Ayi Vivananda, kader PDIP. Poros tengah cukup kaget karena secara matematika dewan, jumlah kursi poros tengah masih lebih banyak dari jumlah kursi golkar+pdip. Di tempat lain, PAN sedang merapat sangat dekat ke PKS, bahkan mengajukan 5 nama untuk diusung menjadi wakil kang Taufik. Tetapi ternyata pada deklarasi Dada-Ayi yang diselenggarakan dalam waktu bersamaan justru dihadiri oleh Deden Rukman Rumaji, ketua DPD PAN kota Bandung, yang namanya termasuk di antara 5 nama yang diajukan ke DPD PKS, bahkan ada kabar di bandung.detik bahwa Deden ini calon terkuat di antara 5 nama yang diajukan.
Saya menduga inilah yang menjadi alasan utama koalisi PKS-PAN gagal. Bisa dibayangkan, ketuanya saja sudah seperti itu, sementara di tingkat wilayah (DPW PKS dan DPW PAN jabar) sedang berusaha keras membicarakan kemungkinan koalisi. Karenanya ini menjadi pertanyaan besar, kalau koalisi ini jadi, apakah jajaran DPD PAN akan bekerja keras untuk pemenangan koalisi ini? Padahal pengalaman HADE kemaren di kota Bandung, PAN nyaris tidak kelihatan kerjanya.
Berdasarkan hal itu, koalisi dengan partai gagal tercipta. Tetapi bukan berarti opsi berikutnya adalah langsung maju sendirian. Masih ada juga opsi lain, yaitu bergabung dengan calon independen. Ada beberapa nama yang jauh-jauh hari sudah masuk ke DPD. Misalnya Indra Prawira, ibu Hetifah, dan Hudaya Prawira. Tapi mohon maaf, saya tidak mengetahui penyebab kegagalan koalisi dengan mereka.
Atas dasar berbagai macam kondisi yang terjadi, akhirnya syuro DPD memutuskan untuk memilih ust. Abu Syauqi maju menjadi calon wakil walikota. Nama Taufikurahman dan Abu Syauqi sendiri sudah digodok lama sebelum pendeklarasian. DPD mencari kader-kader terbaik yang dimiliki di kota Bandung. Ust. Abu Syauqi sejak jauh-jauh hari menolak menjadi Bandung 1, dan sudah menyampaikan keberatannya ke DPP PKS. Tetapi kemudian tetap direkomendasikan oleh DPD untuk menjadi Bandung 2, jika kemungkinan koalisi dengan elemen lainnya gagal.
Itu dulu mungkin informasi dari saya. Kalau ada yang mau menambahkan, silakan. Kalau ada yang mau mengkritik, silakan juga. Yang penting, jangan lupa doanya, dalam setiap habis shalat, dalam qiyamullaylnya, setiap sehabis al ma'tsurat, dan dalam segala kesempatan lainnya. Semoga pilkada ini kita bisa menang. Amin.
2 komentar:
ingat kegagalan pada perang uhud, jangan sampai terulang. mari berjuang
http://agungwp.wordpress.com
Apapunlah......
Posting Komentar