Selasa, 25 November 2008

Semoga saja menjadi amal shaleh... Amiin

Sepertinya sudah lama sekali saya tidak kehilangan sepasang sepatu. Terakhir yang saya ingat adalah saat tingkat satu (atau awal tingkat dua), kehilangan sepatu yang sebenarnya sudah rusak dan sudah lama tidak dipakai.

Tadi siang, saat shalat dzuhur di masjid dekat kantor, saya kehilangan sepatu kesayangan. Sebenarnya biasanya saya tidak menggunakan sepatu ketika hendak ke masjid. Hanya saja beberapa hari terakhir ini ketika sandal butut di kantor lenyap, saya menjadi tidak punya alternatif lain untuk alas kaki. Akhirnya saya gunakan sepatu saya.

Mungkin saja saya memang kurang bershadaqah akhir-akhir ini. Mengingat itu, saya [nyaris] tidak merasa menyesal kehilangan sepasang sepatu. Alih-alih bersedih, justru merasa bahwa saya memang harus punya yang baru. Tapi menyesal juga. Kalau ternyata memang bisa seikhlas ini, kenapa tidak terpikir untuk menyumbangkannya saja sekalian, ketika masih dimiliki.

Orang biasanya berapologi dengan menyatakan sedekah ketika kehilangan barang. Tapi coba bayangkan, jika sedekah tersebut memang disengaja, dengan barang yang paling kita sayangi. Laptop atau PDA kita misalnya. Saya yakin, menyengajakan diri untuk bersedekah lebih utama ketimbang terpaksa merelakan untuk sedekah.

Yah, memang saya masih harus banyak belajar beramal. Tapi bagaimanapun, semoga saja ini menjadi amal shaleh. Amiiin.

Jumat, 14 November 2008

Blog keahlian elektronika

Beberapa waktu yang lalu saya mencoba untuk menginisiasi sebuah blog untuk berbagi keahlian seputar elektronika. Nama blognya adalah belajar mikro. Tapi karena berbagai kesibukan, ternyata tidak sempat menulis cukup banyak. Hingga saat ini baru tiga tulisan saja yang dipost, dan hanya dua yang benar-benar berhubungan dengan elektronika. Itu pun kadar keilmuannya masih rendah.

Mungkin dengan adanya blog ini, saya bisa lebih terpacu untuk menulis lebih banyak seputar keilmuan elektronika. Perlu kita ketahui bersama bahwa dunia elektronika instrumentasi di Indonesia masih sangat kurang dari segi jumlah SDM. Dasar dari semua otomasi di segala bidang (termasuk industri, transportasi, administrasi kependudukan, dan sebagainya) berawal dari bidang ini (instrumentasi).

Sedihnya, komunitas instrumentasi-elektronika yang ada saat ini semakin sedikit. Sebagai gambaran, jika sebelumnya di ITB bisa kita temukan di Fisika, Teknnik Fisika, dan Elektroteknik, maka saat ini di ketiga program studi tersebut sudah semakin minim peminatnya. Bahkan di lab elka - fisika saja saat ini sudah saat jarang kita dapatkan orang yang ngoprek. Kabarnya, ini disebabkan oleh waktu studi yang semakin dipercepat, sehingga orang cenderung meninggalkan dunia hardware yang troubleshooting dalam prosesnya tidak semudah software.

Walaupun pasar di bidang ini belum besar (di negara kita khususnya), sama sekali tidak menunjukkan bahwa tidak ada potensi pasar di negeri kita. Sebagai gambaran saja, pada tahun anggaran APBN 2008 telah dianggarkan dana sangat besar (beberapa Trilyun) untuk migrasi KTP ke Smart Card. Ini sudah menjadi kebijakan pemerintah (departemen dalam negeri). Akan tetapi, ternyata tidak ada sama sekali potensi lokal yang punya potensi untuk mengambil peluang ini, mulai dari smart card-nya, terminal-terminalnya, dan perangkat pendukung lainnya.

Apakah anggaran negara sebesar ini akan diserahkan ke perusahaan-perusahaan swasta luar negeri mentah-mentah? Jika itu dilakukan, maka kita sedang menguras devisa negara kita dan nyaris kita hanya mendapatkan hasil akhirnya saja. Tidak ada nilai tambah dari itu. Yang untung adalah perusahaan-perusahaan seperti Gemalto, Oberthur, ACS, dsb (iya nggak Har, Gun? :p )

Itu baru satu hal. Kita belum bicara tentang (misalnya) otomasi industri. Apakah akan kembali pada perusahaan-perusahaan semacam Siemens, Phillips, perusahaan-perusahaan Jepang dan China, atau bahkan Malaysia? Padahal secara teori di atas kertas, kita sebenarnya mampu melakukannya. PT LEN sudah membuktikannya dengan memasang switch (apapun namanya) untuk perkereta-apian di jalur terpadat di jabotabek. (mas Iwazaki mungkin bisa berbagi)

Di dunia telekomunikasi sebenarnya sudah mulai muncul juga perusahaan lokal seperti konsorsium yang dipimpin oleh INTI (produsen HP merk Nexian), Hariff dan Indonesian Tower (yang membuat Wimax lokal), kemudian ada Quasar (produsen alat-alat wartel), dan beberapa lainnya. Tetapi itu semua masih minim. Kita belum bicara tentang (misalnya) sistem avionik pesawat tempur, atau sistem kendali misil, atau lainnya. (Tapi alhamdulillah, kita sudah bisa bikin satelit)

Terlepas dari itu semua, saya berharap mudah-mudahan blog yang diinisiasi oleh Harry ini bisa menjadi sarana kita mempererat silaturahmi, berbagi ilmu dan wawasan, serta sarana bagi kita untuk menjaga dan mengembangkan keilmuan yang kita miliki. Masih banyak sebenarnya orang-orang yang ingin berkiprah dalam dunia ini (instrumentasi). Hanya saja mereka masih kekurangan wawasan, semangat, dan dana. Mungkin suatu saat kita bisa membantu mereka.