Selasa, 25 November 2008

Semoga saja menjadi amal shaleh... Amiin

Sepertinya sudah lama sekali saya tidak kehilangan sepasang sepatu. Terakhir yang saya ingat adalah saat tingkat satu (atau awal tingkat dua), kehilangan sepatu yang sebenarnya sudah rusak dan sudah lama tidak dipakai.

Tadi siang, saat shalat dzuhur di masjid dekat kantor, saya kehilangan sepatu kesayangan. Sebenarnya biasanya saya tidak menggunakan sepatu ketika hendak ke masjid. Hanya saja beberapa hari terakhir ini ketika sandal butut di kantor lenyap, saya menjadi tidak punya alternatif lain untuk alas kaki. Akhirnya saya gunakan sepatu saya.

Mungkin saja saya memang kurang bershadaqah akhir-akhir ini. Mengingat itu, saya [nyaris] tidak merasa menyesal kehilangan sepasang sepatu. Alih-alih bersedih, justru merasa bahwa saya memang harus punya yang baru. Tapi menyesal juga. Kalau ternyata memang bisa seikhlas ini, kenapa tidak terpikir untuk menyumbangkannya saja sekalian, ketika masih dimiliki.

Orang biasanya berapologi dengan menyatakan sedekah ketika kehilangan barang. Tapi coba bayangkan, jika sedekah tersebut memang disengaja, dengan barang yang paling kita sayangi. Laptop atau PDA kita misalnya. Saya yakin, menyengajakan diri untuk bersedekah lebih utama ketimbang terpaksa merelakan untuk sedekah.

Yah, memang saya masih harus banyak belajar beramal. Tapi bagaimanapun, semoga saja ini menjadi amal shaleh. Amiiin.

2 komentar:

Irfan mengatakan...

jadi tersindir...
saya sering berapologi seperti itu Kang...

kalo ini tidak dicatat sebagai shadaqah (karena memang tidak diniatkan)... moga Allah memberi ganjaran dari sikap kita "mengikhlaskan" barang tsb. karena memang itu cuma titipan...

ipv6 mengatakan...

dugaan tuhan