Kamis, 24 Desember 2009

"KONTEKS" dalam ijtihad demokrasi

Ketika kita mengikuti suatu ijtihad sebuah jamaah yang menyatakan bahwa dibolehkan memasuki sistem demokrasi, maka kita harus perhatikan konteks ijtihad tersebut. Ya benar, konteks akan sangat terkait dengan ijtihad yang diambil. Konteks Indonesia pasti akan sangat berbeda dengan konteks Inggris atau Palestina.

Katakanlah, parlemennya berada di sebuah negara yang menyatakan bahwa sekularitas adalah prinsip utama yang harus dipegang, atau menempatkan nilai-nilai kristen sebagai dasar negara. Maka Ulama tidak akan berpikir bahwa berdakwah lewat parlemen adalah sesuatu yang halal.

Tapi coba perhatikan konteks negara kita. Negara kita menggunakan demokrasi sebagai sekedar cara dalam memilih pemimpin dan membuat aturan-aturan teknis pemerintahan (pemilu, dewan perwakilan), menempatkan Tauhid sebagai dasar negara (pancasila), konstitusinya memberi kebebasan seluas-luasnya dalam mengimplementasikan syariat Islam (Dekrit 1959 yang menyatakan UUD 45 satu paket dengan piagam jakarta). Dalam konteks seperti ini saya tidak habis pikir masih ada yang memberikan fatwa haram bagi demokrasi.

Mungkin kalau yang mereka maksud dengan demokrasi adalah yang seperti didefinisikan oleh Aristoteles (yang ngga dipake di Indonesia), kemudian masih mengakui "vox populi vox dei", dan konteksnya adalah negara seperti Amerika, maka tidak aneh kalau demokrasi difatwakan haram. Tapi demokrasi konteks Indonesia? Please deh...

wallahu a'lam

Kompas: Ada rajam di Somalia

Mungkin ada yang pernah membaca berita kompas pada link ini.

Pada berita itu dikisahkan ada sekelompok milisi di Somalia yang memberlakukan hukum rajam sebagai bagian dari syariat Islam kepada seseorang yang didakwa sebagai pelaku zina.

Buat saya, yang bikin saya ternganga adalah bahwa rajam ini tidak dilaksanakan oleh pemerintahan Islami, melainkan oleh milisi bersenjata. Sejauh yang saya baca dari pendapat-pendapat para ulama, hukum rajam hanya bisa diputuskan oleh pengadilan yang berskala negara, tidak bisa dilakukan hanya dalam skala jamaah saja. Jadi selama pemerintahan Islam belum terbentuk, maka hal yang paling jauh yang bisa ditempuh bagi si (mantan) pezina adalah bertaubat, tidak sampai rajam.

Kalaupun rajam ini memang hasil pengadilan yang sah (secara Islam) maka kemungkinannya hanya ada dua. Yang bersangkutan mengakui perbuatan zinanya, yang kedua memang ada 4 orang yang menyaksikan secara jelas bahwa "ember itu sudah masuk ke dalam sumur". Jika di luar itu, maka rajamnya tidak sah secara Islam.

Tapi berhubung ini adalah berita dunia Islam dan diberitakan di kompas, menurut hemat saya akurasinya menjadi dipertanyakan (gambar bisa saja direkayasa. foto tentang A tapi diberitakan tentang B, apalagi di dunia nun jauh di sana yang susah akses informasinya). Kalau kompas memberitakan tentang teknologi, pendidikan, atau ekonomi, okelah, cukup kredibel. Tapi kalau berita dunia Islam, nanti dulu...

wallahu a'lam

Menyikapi wacana dan berita media

Sebagai kader, kita tidak boleh terprovokasi oleh berita media. Media-media (terutama yang full online) sekarang ini cenderung untuk tidak proporsional dari sisi pemberitaannya. LIhat saja dengan bombardir pendapat dari orang-orang yang berasal dari satu sisi, sedangkan sisi lain dikutip sekedarnya.

Kemungkinannya ada dua, pertama media-media tersebut direkayasa. Kedua karena masalah teknis. Kita tahu perbedaan media online dan cetak adalah masalah kontinuitas. Media cetak dirilis secara diskrit, sehingga bisa mengakomodasi prinsip "cover both side" dalam satu waktu. Sedangkan media online dirilis secara kontinu, sehingga prinsip tadi tidak terakomodir sempurna. Akibatnya jelas: wacana masyarakat terdrive ke arah kesimpulan tertentu.

Nah kita sebagai kader harusnya memiliki prosedur standar dalam menghadapi wacana, terutama terkait jamaah dan partai. Ada dua prosedur utama yang harus kita pegang. Pertama adalah husnudzan. Kedua adalah tabayyun. Sebenarnya ada tambahan yang ketiga, yaitu mencari jawaban alternatif.

Husnudzan harus diletakkan pertama kali. Ketika ada muncul wacana RPP Penyadapan misalnya, jangan sekali-kali terbetik dalam pikiran kita bahwa PKS berkeinginan untuk mendukung koruptor dengan mengkebiri KPK. Ini ide yang luar biasa keterlaluannya. Kemudian baru tabayyun, baik langsung ke yang bersangkutan, tanya ke orang yang tahu tentang hal ini, atau melakukan studi literatur yang cukup detil, misalnya membaca naskah RPP terbaru atau membaca UU terkait (UU ITE misalnya).

Tapi kalau kita sudah minta tabayyun ke partai dan tidak mendapatkannya juga, maka kita juga harus paham bahwa kondisi perpolitikan di Indonesia berubah sangat cepat. Tidak semua langkah bisa dirilis bayannya. Karenanya kita perlu langkah ketiga, yaitu mencari jawaban alternatif. Mungkin jawaban alternatif ini tidak menyelesaikan masalah. Tapi setidaknya dengan jawaban ini kita bisa membendung serangan yang datang bertubi-tubi. Kelak kalau masalahnya sudah clear, kita bisa mengubah jawaban kita ke fakta yang sebenarnya.

Tentang media, memang saya akui kalau kita punya kelemahan. Pertama kita memang belum pandai dalam mengelola media. Bahkan salah satu corong informasi partai (situs resmi PKS) hanya menjadi agregator berita online. Kedua kita memang dalam posisi yang sulit. Di satu sisi kita tahu bahwa SBY punya banyak kelemahan yang menjadikannya target empuk para kritikus, di sisi lain kita menjadi partnernya dalam musyarokah dakwah ini.

Wallahu a'lam

Senin, 21 Desember 2009

Ini Rahasianya, Mengapa Muka Abu Dujjanah Tetap Cerah dan Berseri

Kebetulan nemu tulisan ini di FB. Ust. Lili Nur Aulia adalah redaktur majalah Tarbawi, yg tulisannya sangat sering saya baca. Subhaanallaah, ternyata keutamaan menghilangkan 'perasaan mengganjal' dengan kaum Muslimin sedemikian besarnya. Kasihan sekali mereka yang hatinya penuh ganjalan terhadap sesama Muslim. Si A dibilang pelaku bid'ah, si B dianggap kurang konsisten ibadah, si C dianggap pengikut demokrasi sistem kufur, si D dibilang tidak amanah, dst...

Mari lapangkan hati.
[Akmal di milis WI]


oleh: M. Lili Nur Aulia

Dengarkanlah ungkapan dari lisan seorang sahabat bernama Abu Dhamdham radhiallahu anhu. “Ya Allah, aku tidak punya harta lagi untuk aku sedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Karenanya, sudah aku sedekahkan kehormatanku untuk mereka. Siapa saja yang menghinaku, atau mencaciku, itu adalah halal untukku.”

Hampir tidak ada, orang yang keinginannya untuk memberi kepada orang lain lebih besar daripada keinginannya untuk diri sendiri. Seperti sahabat Abu Dhamdam radhiallahu anhu dan juga para sahabat lainnya. Karenanya, kita pasti aneh mendengarkan ucapan itu. Ternyata ada seseorang yang sangat ingin menghibahkan apa yang menjadi miliknya untuk orang lain. Ternyata ada hati seseorang yang begitu lapang, yang tak mengisi jiwanya untuk kepentingan dirinya, kecuali untuk kepentingan orang lain yang membutuhkannya. Sampai tatkala tak ada lagi yang layak diberikan kepada orang lain, ia menghadirkan kehormatan, kemuliaan, harga dirinya, untuk diberikan kepada orang lain. Lalu, semua caci maki, umpatan, hinaan, akan dijadikan sedekah dari dirinya untuk orang yang mencaci, mengumpat dan menghinanya. Subhanallah.

Abu Dhamdham pasti mempunyai logika keimanannya sendiri untuk memiliki sikap seperti itu. Sebab semua orang lazimnya mempunyai keinginan diri, menyimpan obsesinya untuk diri sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari ungkapan Abu Dhamdham ra ini. Katanya, ”Kedermawanan Abu Dhamdham ini mencerminkan kelapangan hati, ketenangan jiwa, dan kebersihannya dari rasa memusuhi orang lain.” (Tahdzib Madarij As Saalikin, 407). Hati yang lapang, jiwa yang tenang dan tak menyimpan masalah dalam hati. Ketiganya saling bertautan. Hati yang sempit, menandakan jiwa yang selalu resah, dan keadaan itu umumnya dipicu oleh suasana tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain. Dan ketiga hal itulah yang bisa diatasi oleh Abu Dhamdham hingga ia sangat ingin memberi, melebihi keinginannya untuk dirinya sendiri

Saudaraku,

Membersihkan hati dari rasa tidak enak dengan saudara sesama Muslim, tidak mudah dan bahkan membutuhkan kesabaran berlipat. Melapangkan dada, setelah melihat prilaku saudara yang mungkin membuat luka, membikin kecewa, memunculkan amarah, seiring sejalan dengan kemampuan seseorang melatih diri untuk mengendalikan diri saat marah. Dan itu tidak gampang. Karena itulah, sikap tidak menyimpan luka, sikap lapang dada, sikap lapang jiwa yang tidak menyimpan sedikitpun rasa yang mengganggu persaudaraan, adalah sifat-sifat yang menjamin seseorang masuk surga.

Saudaraku,

Masalah ini yang ingin disampaikan Rasulullah saw, saat ia tiga kali memuji seorang pemuda yang datang ke majlisnya, bahwa pemuda yang datang itu adalah penghuni surga. Di tengah nasihat dan arahannya di dalam masjid, Rasulullah saw tiba-tiba mengatakan, ”Akan datang pada kalian sekarang seorang yang menjadi ahli surga.” Tak lama setelah itu, datanglah seorang pemuda Anshar yang bersih janggutnya karena wudhu. Sedangkan tangannya yang kiri menenteng dua sandalnya. Peristiwa serupa ini terjadi lagi keesokan harinya, hingga tiga kali berulang. Abdullah bin Umar radhiallahu anhu tersentak rasa keingintahuannya, dan berniat untuk bermalam di rumah pemuda itu, sampai ia tahu apa rahasianya, hingga mendapat sebutan ahli surga oleh Rasulullah saw, sebanyak tiga kali. Setelah tiga hari bermalam di rumah pemuda itu, Abdullah bin Umar ra merasa tak ada bagian hidupnya yang istimewa. Ia pun bertanya, dan menjelaskan maksud sebenarnya ia bermalam bersama pemuda itu. Pemuda itu menjawab, ”Saya tidak lebih seperti apa yang engkau lihat. Tapi, dalam jiwa saya tak sedikitpun ganjalan perasaan, dan saya tidak hasad sedikitpun atas kebaikan yang mereka terima.” Lalu, Abdullah bin Umar ra pun mengatakan, ”Inilah yang meninggikan kedudukanmu, yang kami tidak sanggup melakukannya.”

Saudaraku,

Hati yang lapang, hati yang tak mempunyai dendam, hati yang tak memiliki rasa kesal, dengan saudara sesama Muslim, adalah surga dunia. Itu kesimpulan dari hadits panjang tentang Abdulah bin Umar dan pemuda Anshar tersebut. Abdullah bin Umar radhiallahu anhu yang terkenal zuhud dan ahli ibadah bahkan mengakui, bila dirinya tidak mampu memiliki kebersihan hati, kelapangan dada, seperti pemuda itu.

Saudaraku,

Setidaknya kita harus berusaha mengusir rasa benci, atau sekedar meminimalisir suasana yang tidak bersih dengan orang lain. Sebab bila rasa dengki, hasad, ganjalan yang ada tak kunjung mampu kita redam, ada bahaya besar yang akan menimpa kita. Hasad, dengki, memang pasti punya logikanya sendiri, dalam arti pasti memiliki alasan untuk bisa dibenarkan. Tapi juga bisa menjadi alasan untuk disalahkan. Alasan yang membenarkan itu sendiri, belum tentu asli kebenarannya karena sangat mungkin ada dalam buaian dan bisikan syetan yang membenarkan sesuatu yang keliru. Dan itu semua berakibat pada perpecahan, perkubuan, bisa merebak, bahkan melebar tak melibatkan satu atau dua orang tertentu melainkan satu kelompok orang. Sampai kita benar-benar menjadi lemah dan berada dalam kondisi seperti yang tegas dilarang Allah swt dalam surat Al Anfal ayat 46, ”... Dan janganlah kalian bertikai, lalu kalian menjadi gagal dan kekuatan kalian hilang.... ”

Saudaraku,

Camkan dalam-dalam bagaimana persaudaraan yang dihidupkan oleh Rasulullah saw di zaman kenabian, dan hidup bergerak dalam dunia para sahabat dan orang-orang shalih. Mereka bukan tak pernah mengalami masalah, merasa terluka, kecewa, dalam interaksi sesamanya. Mereka orang-orang yang hatinya lapang, jiwanya bersih lalu paras mukanya menjadi bercahaya. Mereka berhasil mengatasi permasalahan dalam hubungan mereka dengan sangat baik.

Dengar bagaimana perkataan Abu Dujjanah radhiallahu anhu saat sakit. Ketika itu, para sahabatnya terkejut melihat wajah Abu Dujjanah berseri dan bercahaya, padahal mereka tahu Abu Dujjanah dalam kondisi sakit parah yang mengantarkan ajalnya. Merekapun bertanya kepada Abu Dujjanah, dan ia menjawab, ”Tak ada suatu amalanpun yang paling aku pegang teguh kecuali dua hal. Pertama, aku tidak mau bicara yang tidak bermanfaat. Kedua, hatiku bersih dari perasaan yang mengganjal dengan kaum muslimin.”

Konvergensi layanan internet

Mungkin anda punya email, blog, akun facebook, twitter, linkedIn, friendster, dan sebagainya. Anda juga mungkin terhubung dengan jaringan yahoo! messenger, MSN messenger, dan sebagainya. Biasanya kita memiliki komunitas yang berbeda atau sedikit berbeda di setiap layanan tersebut. Bukan apa-apa, tapi karena tidak semua teman anda juga terdaftar di layanan yang sama dengan yang anda gunakan.

Dengan konvergensi layanan internet, kita dapat menulis tweet dan plurk yang langsung menjadi status di facebook. Kita juga bisa membuat post di blog dan secara otomatis mempublishnya di akun facebook kita. Sebuah inovasi yang bagus, sehingga kita tidak perlu mengulang-ulang posting kita, hal yang merepotkan. Tapi tetap saja, hal ini tidak mengkonvergensikan secara keseluruhan layanan yang kita gunakan. Meskipun facebook punya notes, tetap tidak menggantikan fungsi blog. Meskipun ada fasilitas messenger, tetap tidak menggantikan fungsi yahoo! messenger.

Jadi konvergensi layanan internet sebenarnya ada tapi tidak benar-benar konvergen. Hanya mencoba menggabungkan beberapa layanan sahaja.

*sedang ngetes posting blog via email dan langsung dipublish di notes facebook