Alhamdulillah... 'Alaa kulli haal
Itulah kalimat yang keluar dari mulut saya ketika melihat hasil hitung cepat LSI untuk hasil pemilihan walikota Bandung kemarin. 26persen, Alhamdulillah.
Sungguh tidak mengira bahwa hasilnya akan sangat jauh dari perkiraan. Pada awalnya saya memprediksikan bahwa jika bukan "menang", maka "kalah tipis" akan menjadi hasilnya. Tetapi ternyata kenyataan memberi tahu kita bahwa "kalah telak"lah yang terjadi. Berbagai survey internal sebenarnya sudah mulai menunjukkan keunggulan. Tapi keunggulan itu tidak memasukkan faktor swing voter yang mengikuti pilwako hanya untuk meramaikan saja, bukan benar-benar memberikan dukungan. Karenanya kita terkejut ketika mengetahui bahwa swing voters tersebut (yang katanya mencapai 40-an persen pemilih dari setiap pilkada di Indonesia) memberikan suaranya kepada kang Dada.
Kekalahan ini seharusnya bukan hal yang aneh, mengingat PKS baru berumur sepuluh tahun. Apalagi partai ini adalah tipe partai kader, bukan tipe partai massa. Karenanya penanganannya pun sama sekali berbeda dengan partai lainnya, apalagi yang sudah tua seperti golkar. Apalagi PKS hanya sendirian, sedangkan kang Dada didukung oleh banyak sekali partai. Jadi sekali lagi ini bukan hal yang aneh.
Hikmah yang bisa diraih dari even demokrasi 5 tahunan ini sangat banyak. Dengan keikutsertaan dalam pilwako ini, maka PKS kota Bandung memiliki peta kekuatan yang sangat jelas dalam menghadapi pemilu tahun depan. Bukan hanya itu, PKS kota Bandung pun sudah memiliki parameter peningkatan yang sangat jelas dalam pertumbuhan partai. Ketika HADE menang bulan April lalu, survey internal menunjukkan bahwa suara yang murni milik PKS hanya sekitar 20 persen saja (dari sekitar 40 persen suara di kota Bandung). Hanya dalam waktu 4 bulan, pertumbuhan yang diraih adalah 6 persen (26 persen suara Trendi). Artinya, PKS kota Bandung memiliki potensi untuk meningkatkan suara hingga 12 persen lagi hingga pemilu tahun depan, yang berarti 38 persen suara atau 17 kursi di DPRD kota. Sebuah potensi yang tidak main-main.
Itu adalah hitung-hitungan politik dan kekuatan. Di sisi lain, kita punya nilai lebih dalam menghadapi bulan mulia yang akan segera datang 20 hari lagi. Dengan keterlibatan kita di pilwako, selain meningkatkan intensitas aktivitas dakwah kita, juga meningkatkan kedekatan diri kita kepada Allah. Sudah tidak berbilang banyaknya anjuran untuk senantiasa memperbanyak qiyamullayl, tilawah, shaum, infaq, doa, dsb. Dengan demikian, itu sudah merupakan persiapan yang luar biasa dalam menyambut Ramadhan. Sejak awal, saya pribadi sudah menempatkan keikutsertaan dalam pilwako ini sebagai persiapan menyambut Ramadhan. Karenanya, apapun hasilnya, adalah positif bagi kita.
Satu hal yang harus dicatat, kekalahan dalam pemilihan walikota ini bukanlah kekalahan dakwah. Dakwah bukan milik kita, dakwah bukan milik PKS. PKS hanya menggunakan politik untuk mengakselerasi dakwah di Indonesia. Dakwah juga milik elemen umat Islam yang lain. Dakwah adalah milik umat Islam. Mudah-mudahan dakwah pula yang mendasarkan semua elemen umat Islam yang mendukung kang Dada. Dakwah pula yang menjadikan ormas-ormas Islam mendukung kang Dada. Dakwah pula yang membuat Ulama besar kota Bandung mendukung kang Dada.
Dengan demikian, hasil pemilihan walikota Bandung ini bukan sekedar kemenangan kang Dada, bukan sekedar kemenangan kota Bandung, tapi kemenangan umat Islam. Jika memang begitu keadaannya, maka kemenangan dakwah itu semakin dekat. Insya Allah.
6 komentar:
yap :)
menenangkan.
Menyongsong Big Wave & Peak Performance :)
Atau sebenarnya kekalahan PKS di Bandung adalah antiklimaks?........
menang kalah itu biasa.. Toh masih banyak amanah lain..
sama pak...saya juga berucap hamdallah...aneh yak
@ mas_adhi
nggak ah. nggak aneh.
Rasulullah mengajarkan kita untuk mengucapkan "Alhamdulillah 'alaa kulli haal" di kala mendapatkan cobaan dan "Alhamdulillahi rabbil 'alamiin" di kala mendapatkan nikmat.
Posting Komentar